Strategi Ekspor Batu Bara Bumi Resources dan Adaro Energy

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung tengah memperhatikan pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 4 Desember 2014. Berdasarkan data RTI pukul 10.16 WIB, saham PT Bumi Resources Tbk turun 4,94 persen menjadi Rp 77 per saham. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 1.614 kali dengan volume perdagangan saham 1.190.528. Nilai transaksi harian sahamnya mencapai Rp 9,3 miliar. Harga saham BUMI sempat berada di level tertinggi Rp 82 dan terendah Rp 75 per saham. Tempo/Tony Hartawan

    Pengunjung tengah memperhatikan pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 4 Desember 2014. Berdasarkan data RTI pukul 10.16 WIB, saham PT Bumi Resources Tbk turun 4,94 persen menjadi Rp 77 per saham. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 1.614 kali dengan volume perdagangan saham 1.190.528. Nilai transaksi harian sahamnya mencapai Rp 9,3 miliar. Harga saham BUMI sempat berada di level tertinggi Rp 82 dan terendah Rp 75 per saham. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua emiten batu bara, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) masih fokus pada negara tujuan eksisting sehingga belum berniat mencari pasar ekspor baru. Langkah India memperpanjang lockdown belum mempengaruhi kebijakan ekspor dua emiten tersebut.

    Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan hingga kuartal I 2020, perseroan masih menjual kepada pasar ekspor perseroan yang juga pelanggan lama. Dia menambahkan, BUMI akan memantau perkembangan di Cina dan India, dua negara konsumen batu bara terbesar di dunia.

    “Pasar Cina memang tampaknya akan pulih tetapi masih menahan inventaris. Begitu juga India yang masih lockdown. Sedangkan permintaan pasar lain tampak sedikit bergeming, tetapi masih tetap aktif,” ujar Dileep kepada Bisnis, Rabu, 6 Mei 2020.

    Pada kuartal I 2020 perseroan berhasil membukukan penjualan sebesar 21 juta ton, naik sekitar 3 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu atau sekitar 20,37 juta ton.

    Dileep mengatakan perseroan akan terus mengamati perkembangan pandemi Covid-19 dan akan mengkaji dampaknya terhadap operasional untuk melakukan beberapa penyesuaian jika diperlukan.

    Di lain pihak, Adaro Energy tidak akan mengubah kebijakan ekspor batu bara. Perseroan lebih fokus untuk memproduksi batu bara jenis coking coal.

    Head of Corporate Communication Division Adaro Energy Febriati Nadira mengatakan bahwa pasar atau negara tujuan ekspor Adaro saat ini sudah cukup terdiversifikasi sehingga perseroan tidak berupaya untuk membidik pasar baru di tengah pandemi.

    “Salah satu strategi kami yaitu mendiversifikasi bisnis mining dengan masuk ke coking coal,” ujar Febriati kepada Bisnis, Rabu, 6 Mei 2020.

    Dia mengatakan perseroan akan terus berupaya mempertahankan kinerja yang solid melalui model bisnis yang terintegrasi. Anak usaha ADRO di keempat pilar utama, kata dia, terlibat dalam setiap bagian rantai pasokan batubara sehingga perusahaan dapat mengontrol biaya, meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko pihak ketiga.

    Febriati mengaku hingga saat ini tidak ada pembatalan maupun permintaan penyesuaian kontrak di tengah pandemi Covid-19 karena sebagian besar konsumen ADRO adalah end user untuk pembangkit energi.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.