Kementan: Penyerapan Ayam Ras Peternak Mandiri 14,9 persen

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menata keranjang telur ayam siap tetas yang kosong di PT Charoen Pokphand Jaya Farm, Desa Margasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 28 Juni 2019. Menurut Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Sugiono, mengharuskan satu pekan kedepan sebanyak 24 perusahaan Day Old Chicken (DOC) di Jawa Tengah memusnahkan 30 persen DOC dari produksi. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Pekerja menata keranjang telur ayam siap tetas yang kosong di PT Charoen Pokphand Jaya Farm, Desa Margasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 28 Juni 2019. Menurut Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Sugiono, mengharuskan satu pekan kedepan sebanyak 24 perusahaan Day Old Chicken (DOC) di Jawa Tengah memusnahkan 30 persen DOC dari produksi. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian memantau implementasi komitmen kerja sama penyerapan ayam ras (livebird) peternak mandiri oleh para mitra peternakan. Hingga 7 Mei 2020, jumlah ayam yang sudah diserap oleh perusahaan mitra peternakan sebanyak 613.870 ekor atau setara 14,9 persen dari komitmen yang disepakati 4.119.000 ekor.

    “Kami terus mengimbau perusahaan pembibitan ayam ras dan perusahaan pakan ternak yang telah melakukan pembelian livebird agar dapat terus memaksimalkan penyerapan sesuai komitmennya,” kata Dirjen PKH, I Ketut Diarmita dalam keterangan tertulis, Kamis, 7 Mei 2020.

    Ketut mengatakan data capaian pembelian livebird di tingkat provinsi, yakni provinsi Jawa Barat sebanyak 312.024 ekor, Banten 18.695 ekor, Jawa Tengah 181.585 ekor, DI Yogyakarta 6.847 ekor, Jawa Timur 79.487 ekor, dan Sumatera Utara 15.232 ekor.

    "Masih ada dua perusahaan yang belum melaporkan hasil pembelian livebird peternak mandiri, kami harapkan perusahaan mitra tersebut dapat segera melaporkan," ujarnya.

    Ketut menyampaikan terdapat enam mitra peternakan yang penyerapannya di atas 50 persen, dan empat perusahaan mitra lainnya telah melebihi target (lebih dari 100 persen) yakni PT. Expravet, PT. Intertama Trikencana Bersinar, dan PT. Ayam Manggis, dan CV. Surya Inti Pratama.

    Menurutnya, Tim Ditjen PKH juga mencatat bahwa penyerapan terbesar saat ini dilakukan oleh PT Charoen Pokphand sebesar 190.513 ekor (19,05 persen dari komitmen) dan PT. De Heus sebanyak 115.161 ekor (11,52 persen dari komitmen).

    Sementara itu, A. Bagus Pekik, Head Poultry Value Chain PT. De Heus menyampaikan bahwa bagi mereka, pembelian livebird peternak ini merupakan bentuk kebersamaan anak bangsa.

    PT. De Heus sebagai perusahaan yang bergerak dibidang pakan ternak tambahnya, memahami permasalahan peternak mandiri yang kesulitan karena harga livebird yang rendah, dan tergerak rasa nasionalisme dan kemanusiaannya untuk membantu membeli livebird peternak mandiri.

    "Kami siap membeli satu juta ekor livebird peternak mandiri, walaupun kami tidak memiliki RPHU dan Cold Storage, namun kami carikan untuk membantu masalah ini," kata Bagus.

    Hal senada juga disampaikan oleh Suwandi pimpinan PT. Karya Indah Pertiwi yang berkomitmen untuk membeli livebird peternak mandiri sebanyak 50.000 ekor dengan harga Rp 15.000 per kilogram.

    "Semoga ini jadi awal perbaikan harga ayam pedaging menuju harga BEP dan mendukung sukses dan berkembangnya peternak rakyat mandiri," ujar dia.

    Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Lalu Muhamad Syafriadi berharap fasilitasi penyerapan livebird ini dapat mengurangi supply ayam ke pasar, sehingga akan terjadi keseimbangan supply - demand.

    "Diharapkan harga akan meningkat dan pada gilirannya peternak bisa menikmati hasil usahanya," kata Lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.