Harga Anjlok, Batu Bara Diprediksi Bakal Makin Terpuruk

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial bekas tambang batu bara di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu, 28 Agustus 2019. Saat ini, luas lahan bakal ibu kota diperkirakan mencapai 180 hektare. .ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Foto aerial bekas tambang batu bara di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu, 28 Agustus 2019. Saat ini, luas lahan bakal ibu kota diperkirakan mencapai 180 hektare. .ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Komoditas batu bara Indonesia diprediksi akan semakin terpuruk di sepanjang kuartal II 2020. Musababnya, Harga Batu bara Acuan (HBA) kembali merosot di bulan Mei 2020 ke angka US$61,11 per ton. 

    Sebelumnya HBA Januari tercatat di angka US$ 65,93 per ton, turun dari US$ 66,30 per ton di Desember 2019. Lalu, harga sempat naik di Februari menjadi US$ 66,89 per ton dan Maret sebesar US$ 67,08 per ton. Lalu, HBA kembali mengalami penurunan di April yang mencapai US$  65,77 per ton. 

    Ketua Umum Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo mengatakan harga batu bara ini akan semakin melorot. Dampak pada sektor batu bara akan terasa pada kuartal II dengan tekanan terhadap sektor pembangkit dan industri karena penurunan energi hampir rerata negara importir adalah sekitar 10 persen hingga 20 persen.  "Kecuali Jepang yang penurunannya relatif kecil," ujar Singgih kepada Bisnis, Rabu 6 Mei 2020.

    Menurut Singgih, akibat tekanan atas ekspor batu bara ini tentu akan mempengaruhi indeks harga yang turun termasuk HBA.  "Melihat dampak Covid-19 masih terjadi dan India sebagai prospek pasar batu bara masih lockdown sampai saat ini. Indeks industri mereka turun tajam, maka jelas di kuartal ke II saya melihat justru kita akan dihadapkan pada tekanan harga yang cukup besar dibandingkan kuartal I," kata dia. 

    Singgih menilai penjualan ekspor tetap akan terbuka meski tekanan harga akan lebih besar. Apalagi Australia sampai saat ini belum ada keinginan untuk menurunkan volume produksi. Tentu dengan zonasi pasar ekspor yang relatif sama, kondisi itu akan berdampak pada pasar batu bara Indonesia yang masih akan tertekan.

    Singgih menuturkan di tengah ekspor yang terbatas karena rendahnya permintaan dan harga yang tertekan dibutuhkan peran dari pemerintah. "Sebatas stimulus pajak bisa jadi ke depan belum mampu mempertahakan atas tekanan pasar, apalagi urusan pajak terkait dengan perhitungan kalkulasi akhir tahun," kata Singgih. 

     
    BISNIS

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.