Defisit Beras Selama PSBB, Sagu Jadi Alternatif di Riau

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani Lampung Berjaya, Surplus Beras Hingga 266.110 Ton.

    Petani Lampung Berjaya, Surplus Beras Hingga 266.110 Ton.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian mencatat ada empat provinsi yang mengalami defisit beras selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Keempat provinsi itu adalah Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Maluku Utara.

    Menghadapi krisis pangan ini, DPRD Riau pun mengusulkan kepada  pemerintah untuk menjadikan sagu sebagai bahan pangan alternatif. "Cukup memprihatinkan. Di tengah pandemi, kita malah dihadapkan dengan defisit beras. Ini tentu sangat dilematis karena Provinsi Riau hingga hari ini masih sangat bergantung pada provinsi tetangga untuk menyuplai kebutuhan beras sendiri," kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau Hardianto di Pekanbaru, Rabu 6 Mei 2020.

    Hardianto menyarankan Pemprov Riau dan pemda kabupaten/kota menghidupkan kembali sentra pertanian dengan memberikan stimulus kepada petani untuk berproduksi. "Berikan dorongan stimulus pada petani. Kita hidupkan lagi sentra pertanian yang semula tidak jalan. Ini bisa dikerjakan. Karena, kita tidak punya pilihan lain, kalau cetak sawah berkaitan dengan waktu dan anggaran yang tidak memungkinkan untuk dilakukan saat ini," ujarnya.

    Ia juga menyarankan agar pemerintah daerah untuk menjadikan sagu sebagai sumber pangan alternatif. Kabupaten Kepulauan Meranti, menurut dia, menjadi daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia, sehingga komoditinya bisa dimanfaatkan di tengah krisis pangan. "Perkebunan sagu terbesar berada di Meranti. Nah, mungkin saja, bisa dijadikan komoditas pangan alternatif," kata Hardianto.

     

    Sebelumnya, Kementerian Pertanian melaporkan penurunan jumlah provinsi yang mengalami defisit pasokan beras usai pemerintah bersama Perum Bulog melakukan intervensi dengan distribusi dari wilayah yang surplus. 

    "Sesuai paparan presiden, ada tujuh provinsi yang defisit beras. Setelah kami intervensi, maka yang tersisa adalah Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Maluku Utara," kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Senin, 4 Mei 2020.

    Kementerian Pertanian berjanji, defisit di tujuh provinsi selama April bakal ditanggulangi dengan upaya konsolidasi pasokan beras dari tiga provinsi yang mengalami surplus, yakni Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Adapun stok beras keseluruhan dari ketiga provinsi ini pada April yakni 721.657 ton di Jawa Timur, 183.845 ton di Sulawesi Selatan, dan 38.988 ton di Kalimantan Timur. Sementara stok beras nasional yang tersebar di penggilingan padi, pedagang, dan Perum Bulog per April tercatat berada di angka 3,52 juta ton.

    Meski terdapat daerah yang terpantau mengalami defisit, Kementan menjamin potensi ketersediaan beras sampai Juni 2020 akan mencukupi.

    ANTARA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.