Kurs Rupiah Melemah Lagi Jadi 15.100, Dipicu Ketegangan AS-Cina

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore lunglai dan kembali menembus level psikogis Rp 15.000 per dolar AS akibat terpaan sentimen negatif global dan domestik.

    Rupiah ditutup melemah 218 poin atau 1,47 persen menjadi Rp 15.100 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.882 per dolar AS. "Pasar merespon perang kata-kata yang meningkat antara AS dan China mengenai asal virus Corona," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin, 4 Mei 2020.

    Para pejabat AS menyalahkan China atas wabah pandemi COVID-19. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan ada sejumlah besar bukti bahwa virus muncul dari laboratorium di kota Wuhan, China tengah.

    Pernyataan itu kemudian diikuti ancaman Presiden AS Donald Trump, yang menyatakan tidak akan memprioritaskan kesepakatan dagang dengan China.

    Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2020 mengalami kontraksi 4,8 persen. Sementara itu, sekitar 30 juta orang di AS telah mengajukan klaim pengangguran dalam enam minggu terakhir.

    Dari domestik, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April mencapai angka 27,5, jauh menurun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 43,5 dan menjadi yang terendah sepanjang pencatatan PMI yang dimulai sejak April 2011.

    Indeks dari Markit menggunakan angka 50 sebagai batas, di bawah 50 artinya kontraksi, sementara di atas berarti ekspansi. "Data terbaru tersebut menunjukkan kontraksi sektor manufaktur Indonesia yang semakin dalam, akibatnya kinerja rupiah semakin terpuruk," ujar Ibrahim.

    Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka memerangi COVID-19 dinilai menjadi penyebab kontraksi tersebut.

    Sentimen domestik lainnya yaitu rendahnya laju inflasi April. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pada bulan lali terjadi inflasi sebesar 0,08 persen.

    Pergerakan inflasi tersebut dinilai tidak biasa dengan pola sebelumnya dimana tahun lalu masuk Ramadan jatuh pada Mei dan inflasi meningkat, namun tahun ini justru melambat.

    COVID-19 ditengarai sebagai penyebabnya. Permintaan barang yang harusnya meningkat apalagi memasuki bulan puasa dan Idul Fitri, tidak terjadi.

    Hal tersebut menjadi salah satu indikasi penurunan daya beli masyarakat akibat banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta penerapan PSBB di beberapa wilayah Indonesia.

    Rupiah pada pagi hari dibuka melemah di posisi Rp 14.960 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp 14.960 per dolar AS hingga Rp 15.133 per dolar AS.

    Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp 15.073 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 15.157 per dolar AS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?