Berhemat, Angkasa Pura II Sementara Tak Operasikan Sky Train

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terminal Skytrain Bandara Soekarno Hatta, salah satu proyek yang digarap oleh PT Utomodeck Metal Works untuk pemasangan atap baja lengkung tanpa sambungan, Tangerang, Banten, Rabu, 3 Januari 2018. Tempo/Fajar Pebrianto

    Terminal Skytrain Bandara Soekarno Hatta, salah satu proyek yang digarap oleh PT Utomodeck Metal Works untuk pemasangan atap baja lengkung tanpa sambungan, Tangerang, Banten, Rabu, 3 Januari 2018. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta -  PT Angkasa Pura II (Persero) tengah melakukan penghematan biaya operasional di 19 bandara yang dikelola perusahaan di tengah pandemi virus Corona. Director of Engineering Angkasa Pura II Agus Wialdi mengatakan salah satu bentuk penghematan yang dilakukan adalah menonaktifkan kereta layang atau Skytrain di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

    “Penghematan salah satu kunci dalam merespons tantangan Covid-19. Bandara Angkasa Pura II saat ini beroperasi dengan lebih sederhana dibandingkan kondisi normal, menyesuaikan juga dengan traffic penumpang dan penerbangan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Ahad, 3 Mei 2020.

    Dengan disetopnya Skytrain, perseroan kini memaksimalkan pemanfaatan shuttle bus sebagai transportasi publik antar-terminal. Selain itu, upaya yang dilakukan untuk menghemat biaya operasional adalah menutup Transit Oriented Development (TOD). Tak hanya untuk menghemat biaya, langkah ini diharapkan dapat mendukung gerakan jaga jarak fisik alias physical distansing.

    Kemudian, penghematan dari sisi lain adalah mengurangi penggunaan fasilitas nonprioritas, seperti penyejuk udara. Adapun secara umum, dengan penonaktifan sementara sejumlah layanan tersebut, Angkasa Pura II telah menghemat penggunaan listrik hingga 46 persen di seluruh bandaranya.

    Di samping listrik, bandara Angkasa Pura II telah melakukan penghematan penggunaan air bersih hingga 60. "Bandara juga menghemat penggunaan kendaraan operasional di kawasan bandara, baik di sisi udara maupun di sisi darat," tuturnya.

    Sedangkan dari sisi caputal expenditure atau capex, perseroan mengetatkan sejumlah pos belanja. Dalam rencana kegiatan perusahaan, capex hanya akan digunakan untuk kebutuhan yang dinilai sangat dibutuhkan dengan memperhitungkan situasi dan kondisi saat ini.

    Penghematan capex ini juga mencakup porsi yang sebelumnya direncanakan untuk pengembangan di bandara-bandara kerja sama pemanfaatan barang milik negara (KSP BMN). Di antaranya Bandara Radin Inten II (Lampung), Bandara HAS Hanandjoeddin (Belitung), Bandara Fatmawati Soekarno (Bengkulu), dan Bandara Tjilik Riwut (Palangkaraya).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.