Sebut Corona Tak Kuat Panas, Luhut Akui Dirinya Dibully Warganet

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, memberi penjelasan setelah mendapat laporan soal kasus dugaan korupsi PT Asabri (Persero) di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Januari 2020. Tempo/Fajar Pebrianto

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, memberi penjelasan setelah mendapat laporan soal kasus dugaan korupsi PT Asabri (Persero) di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Januari 2020. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengakui sempat dirisak atau di-bully oleh warganet (netizen) lantaran mengeluarkan pernyataan soal virus corona dan cuaca panas. Luhut sebelumnya mengatakan bahwa virus Covid-19 diperkirakan tak bakal tahan dengan cuaca panas di negara tropis seperti Indonesia pada musim kemarau nanti.

    "Dulu saya di-bully saat bilang (cuaca) panas itu punya pengaruh ke Covid-19. Ya bisa iya, bisa enggak juga," ujar Luhut dalam wawancara bersama Radio RRI, Sabtu, 2 Mei 2020.

    Menurut Luhut, pernyataannya ini bukan tanpa dasar alias omong kosong belaka. Musababnya, Luhut mengklaim kemungkinan itu merupakan hasil kajian para ahli asal Indonesia terhadap permodelan virus di wilayah ekuator panas.

    Bahkan, menurut dia, penelitian itu juga telah diakui oleh para ahli di Amerika Serikat. "Jadi saya sedih karena saya menyampaikan hasil peneliti Indonesia tapi dianggap enggak benar," tuturnya.

    Meski mempercayai bahwa pemulihan penyebaran virus corona di Indonesia akan berlangsung cepat karena terpengaruh cuaca panas, Luhut mengatakan hal-hal lain tak boleh diabaikan. Misalnya kedisiplinan untuk memakai masker, membiasakan cuci tangan, dan menjaga jarak aman alias physical distancing.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).