Kartu Prakerja, Wishnutama Minta Pelaku Wisata Diprioritaskan

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tukang becak menanti penumpang di tengah sepinya  Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 17 April 2020. Selama masa pandemi COVID-19, kawasan cagar budaya dengan julukan 'Little Netherland' (Kota Belanda Kecil) yang menjadi tujuan utama wisata di Kota Semarang itu sepi pengunjung. ANTARA/Aji Styawan

    Seorang tukang becak menanti penumpang di tengah sepinya Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 17 April 2020. Selama masa pandemi COVID-19, kawasan cagar budaya dengan julukan 'Little Netherland' (Kota Belanda Kecil) yang menjadi tujuan utama wisata di Kota Semarang itu sepi pengunjung. ANTARA/Aji Styawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio meminta pekerja di sektor wisata yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena pandemi corona diprioritaskan memperoleh jaminan Kartu Prakerja. Ia menyebut Kementeriannya telah berkoordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk mendata para pekerja yang dimaksud.

    "Melalui koordinasi dan sinergi antar K/L, nantinya pekerja yang di-PHK dan dirumahkan ini akan didaftarkan dalam Program Kartu Prakerja secara bertahap dalam 4-5 minggu ke depan,” kata Wishnutama, Jumat, 1 April 2020.

    Mantan bos media itu menjelaskan, saat ini, sektor pariwisata, termasuk di dalamnya hotel dan restoran, merupakan pihak yang paling terdampak penyebaran virus corona. Bahkan, dari seluruh sektor, dampak terhadap bidang pariwisata mencapai 70 persen.

    Adapun pekerja dan pelaku usaha di bidang wisata yang paling terimbas pandemi ini ialah Bali, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Utara. Begitu juga dengan wilayah-wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.