The Fed Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Diprediksi Menguat

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menjual mata uang dolar di money changer kawasan Kwitang. Nilai tukar dolar Amerika Serikat, mencapai level Rp14.060 per Dolar AS.  Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Warga menjual mata uang dolar di money changer kawasan Kwitang. Nilai tukar dolar Amerika Serikat, mencapai level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah diprediksi melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini setelah Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan rupiah bisa menguat dan bergerak di kisaran Rp 15.190 - Rp 15.390 per dolar AS pada hari ini.

    Pada Rabu kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berhasil ditutup terapresiasi tajam 150 poin atau 0,97 persen ke level Rp 15.295 per dolar AS. Penguatan itu terjadi saat indeks dolar melemah jelang rilis keputusan rapat kebijakan The Fed.

    Indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau melemah 0,29 persen atau 0,289 poin ke posisi 99,576. 

    Ibrahim menyebutkan, salah satu sentimen yang dipantau pasar ialah kondisi pandemi virus Corona di DKI jakarta terus menurun. Dengan begitu,a da kemungkinan pembatasan sosial berskala besar di awal Juni mendatang bisa kembali dilonggarkan.

    Hal ini akan diikuti oleh provinsi-provinsi lain, sehingga perekonomian kembali berjalan. Penghentian PSBB menjadi angin segar bagi pasar dan membuat arus modal asing kembali membanjiri pasar valas dan obligasi, sehingga mata uang rupiah menguat. "Selain itu, pelaku pasar memantau hasil Rapat Federal Reserve," ujar Ibrahim, Kamis, 30 April 2020.

    Bank sentral Federal Reserve Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran level saat ini dan berjanji untuk mempertahankannya hingga ekonomi AS kembali pulih.

    Dalam rapat kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berakhir Rabu (29/4/2020) waktu setempat atau Kamis (30/4/2020) dini hari WIB, para pembuat kebijakan memutuskan mempertahankan Fed Funds Rate di level 0 persen - 0,25 persen.

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sebelumnya menyebutkan kini posisi rupiah di kisaran Rp 15.400 per dolar AS terbilang undervalue. Oleh karena itu, BI optimistis rupiah dapat menuju Rp 15.000 per dolar AS pada akhir 2020.

    Salah satu pendorong rupiah ialah defisit transaksi berjalan yang lebih rendah. Semula 2,5 persen - 3 persen dari PDB, insyaallah akan lebih rendah dari itu. Saat ini masih Rp15.400 karena faktor teknikal," kata Perry, Rabu, 29 April 2020.

    Selain itu, Bank Indonesia berkomitmen menjaga pasar dan stabilitas nilai tukar rupiah, sehingga akan melakukan intervensi di pasar spot, DNDF, dan SBN. "Kami juga optimistis adanya inflow yang lebih besar. Biasanya setelah 4 bulan outflow, akan selaku diikuti periode inflow," ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.