Pendapatan KAI Akibat Corona Anjlok, Rp 39 M Jadi Rp 4 M per Hari

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sepi di Stasiun Senen, Jakarta, Jumat, 24 April 2020. PT KAI memberhentikan sementara perjalanan kereta api jarak jauh dari tanggal 24-30 April dikarenakan pemerintah telah menetapkan larangan mudik guna memutus penyebaran Covid-19. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Suasana sepi di Stasiun Senen, Jakarta, Jumat, 24 April 2020. PT KAI memberhentikan sementara perjalanan kereta api jarak jauh dari tanggal 24-30 April dikarenakan pemerintah telah menetapkan larangan mudik guna memutus penyebaran Covid-19. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendapatan PT Kereta Api Indonesia atau KAI yang bersumber dari penumpang merosot sebagai dampak pandemi corona atau COVID-19.

    Direktur Utama KAI Edi Sukmoro dalam rapat dengar pendapat (RDP) virtual dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Rabu, menyebutkan pada 2 Februari 2020 secara menyeluruh KAI mengantongi pendapatan per hari Rp 39 miliar, namun anjlok menjadi Rp 4 miliar pada 31 Maret 2020.

    “Dari sisi pendapatan penumpang ini kalau kita bandingkan dari 2 Februari 2020 itu secara menyeluruh per hari Rp 39 miliar, Maret jadi Rp 4 miliar,” katanya.

    Penurunan pendapatan itu seiring dengan penurunan penumpang, terutama setelah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terbit dan keluarnya Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri 1441 H Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19.

    “Memang penumpang berkurang jauh apalagi setelah keluar PM 25, tidak jadi mudik itu lebih turun lagi tapi mulainya di April 2020. Kemudian puncak harian yang kami capai hanya 11 persen tapi kalau dirata-ratakan kurang lebih pendapatan di 31 Maret hanya 21 persen dari rata-rata,” katanya.

    Jumlah penumpang KAI harian rata-rata triwulan I 2020 sebanyak 1,2 juta penumpang, yang terdiri dari 775.501 penumpang KRL, 208.210 penumpang kereta api jarak jauh, dan 5.891 penumpang bandara.

    Sementara itu, pada 31 Maret 2020 jumlah penumpang harian hanya menyisakan 275.827 penumpang. Rinciannya, 226.625 penumpang KRL, 48.773 penumpang kereta api jarak jauh, dan 429 penumpang kereta bandara.

    “Secara kasar sebenarnya jika akhir pandemi ini di bulan Juni maka kami sudah rugi di laba rugi tahun berjalan. Di bulan Agustus lebih besar meruginya dan Desember lebih besar lagi,” katanya.

    Bahkan, lanjut Edi, okupansi kereta api hanya 15-20 orang dalam satu rangkaian. Ia menambahkan pihaknya juga harus mengembalikan bea tiket (refund) sebesar 100 persen bagi penumpang yang membatalkan seiring keluarnya PM 25/2020.

    “Pengembalian tiket sampai hari ini sudah kami lakukan, semula 900.000 sekarang tinggal 300.000 pengembalian tiket. Mereka diizinkan kembali tiket dengan 100 persen,” katanya.

    Untuk menyiasati turunnya kinerja keuangan, KAI berupaya menegosiasi relaksasi pinjaman yang jatuh tempo. “Kami berupaya mendekati pinjaman jatuh tempo, supaya dilakukan relaksasi kepada KAI. Kami juga meminta penurunan bunga atas investasi demi menjaga KAI bisa berjalan dengan baik,” katanya.

    Di sisi lain, kinerja angkutan barang kereta api meningkat. Sebagai gambaran, pendapatan pada Maret 2020 naik menjadi Rp 611 miliar dibandingkan Maret 2019 sebesar Rp 564 miliar. Sementara pada periode sebelumnya, per Februari 2020 pendapatan dari angkutan barang Rp 469 miliar, turun ketimbang pada Februari 2019 sebesar Rp 528 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.