Stok Defisit, Asosiasi Minta Masyarakat Kurangi Konsumsi Gula

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga antre membeli sembako saat operasi pasar murah di Kecamatan Tegal Selatan, Tegal, Jawa Tengah, Selasa 21 Mei 2019. Pasar murah yang diadakan Pemerintah Kota Tegal menyediakan sebanyak 8.000 kantong berisi minyak, beras dan gula pasir dengan harga Rp30 ribu per kantong sebagai upaya meredam harga-harga kebutuhan pokok di pasaran yang merangkak naik jelang Lebaran mendatang. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

    Warga antre membeli sembako saat operasi pasar murah di Kecamatan Tegal Selatan, Tegal, Jawa Tengah, Selasa 21 Mei 2019. Pasar murah yang diadakan Pemerintah Kota Tegal menyediakan sebanyak 8.000 kantong berisi minyak, beras dan gula pasir dengan harga Rp30 ribu per kantong sebagai upaya meredam harga-harga kebutuhan pokok di pasaran yang merangkak naik jelang Lebaran mendatang. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Gula Indonesia (AGI) meminta masyarakat mulai mengurangi konsumsi gula lantaran stok komoditas diperkirakan defisit sampai akhir tahun. Tenaga Ahli AGI Yadi Yusriadi mengatakan upaya ini merupakan salah satu solusi agar masalah kekurangan gula terpecahkan di tengah pandemi virus Corona.

    "Kami mencoba mendidik masyarakat agar konsumsi gula dikurangi. Mau enggak mau, itu cara yang harus dilakukan," katanya saat dihubungi Tempo pada Rabu, 29 April 2020.

    Yadi mengatakan, hingga akhir tahun nanti, negara akan mengalami defisit gula, baik gula konsumsi, gula rafinasi, hingga gula mentah atau raw sugar, sebanyak 2,8-3 juta ton. Defisit gula terjadi karena produksi nasional tak sebanding dengan angka konsumsi komoditas untuk masyarakat dan industri.

    Hingga Desember 2020, ia memperkirakan total konsumsi gula mencapai 5 juta ton. Sedangkan total produksi nasional ditengarai hanya menyentuh 2-2,2 juta ton.

    Meski defisit gula 2020 diproyeksikan lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya lantaran adanya penurunan konsumsi akibat pandemi corona, Yadi mengakui keadaan ini tetap menjadi masalah yang harus terpecahkan.

    Musababnya, saat ini, pengusaha kesulitan mengimpor gula dari negara-negara lain untuk memenuhi total kebutuhan komoditas secara nasional. "Dengan kondisi Covid-19 ini, tidak mudah negara mengeluarkan stoknya. Mereka juga akan hitung kebutuhan sendiri dengan kondisi seperti ini," ujar Yadi.

    Yadi mencontohkan, impor gula yang sulit terealisasi ialah yang berasal dari India. Selain karena pemerintah setempat mesti mengamankan kebutuhan dalam negerinya sendiri, lalu-lintas perdagangan ke India saat ini sedang terhambat karena adanya kebijakan lockdown.

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebelumnya menyatakan stok sejumlah bahan pokok akan mengalami defisit, termasuk gula. Menurut Jokowi, defisit gula terjadi di 30 provinsi di Indonesia.

    "Hitung cepat, assessment cepat kebutuhan bahan pokok setiap daerah. Dihitung provinsi mana yang surplus dan mana yang defisit,” ujar Jokowi via telekonferensi, Selasa, 28 April 2020.

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.