Biaya Angkut dan Bahan Baku Naik, Harga Obat Bakal Semakin Mahal

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas pekerja di pabrik obat PT Indofarma (persero) Cibitung, Bekasi, Selasa (10/04). PT Indofarma akan melakukan investasi sebesar Rp 100 milliar untuk mengembangkan produksi generik dan herbal dan memenuhi kebutuhan bahan baku yang saat ini 90% masih Impor. TEMPO/Dasril Roszandi

    Aktivitas pekerja di pabrik obat PT Indofarma (persero) Cibitung, Bekasi, Selasa (10/04). PT Indofarma akan melakukan investasi sebesar Rp 100 milliar untuk mengembangkan produksi generik dan herbal dan memenuhi kebutuhan bahan baku yang saat ini 90% masih Impor. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Tirto Kusnadi khawatir harga obatan-obatan dalam negeri dikhawatirkan semakin mahal saat pandemi virus corona atau Covid-19. Kekhawatiran Harjanto disebabkan naiknya harga bahan baku obat yang mayoritas barang impor dan biaya angkut. 

    "Dalam situasi sekarang ini menghadapi COVID-19 seluruh dunia, praktis semua bahan baku harganya naik dari 30 persen sampai tiga kali lipat," kata dia saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI Senin 27 April 2020. 

    Dia menjelaskan, saat pandemi banyak negara yang menerapkan karantina wilayah. Hal ini menyebabkan banyak maskapai tak melayani penerbangan maupun angkutan laut konvensional. Akibatnya biaya angkut barang mengalami kenaikan hingga 3-5 kali lipat.

    "Maskapai penerbangan dan perkapalan menaikan suka-suka mereka," ucapnya.

    Tirto menuturkan tak menutup kemungkinan jika harga produk obat-obatan di dalam negeri akan semakin mahal. "Jadi betul sekali setelah kita merasakan bahwa harga obat itu akan meningkat di pasaran karena memang bahan baku kita impor," ucapnya.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Darodjatun Sanusi menjelaskan pihaknya telah menjalankan arahan dari pemerintah guna memastikan sekitar 70 persen pasar obat-obatan berasal dari dalam negeri.

    Dia mengatakan, para produsen obat dalam negeri pun saat ini sedang memproduksi 15 jenis produk obat yang sebelumnya harus impor. "Setidaknya ada penghematan sebesar 20 persen dari harga normal," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.