Analis: IHSG Sulit Kembali ke Level 6.000 Hingga 2021

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terlemah dibandingkan dengan bursa saham di Asia hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (17/3). Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG atau Jakarta Composite Index menjadi yang terlemah dengan koreksi sebesar persen atau poin ke level 4.478,55. Kejatuhan ini menjadi yang terlemah sejak Januari 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terlemah dibandingkan dengan bursa saham di Asia hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (17/3). Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG atau Jakarta Composite Index menjadi yang terlemah dengan koreksi sebesar persen atau poin ke level 4.478,55. Kejatuhan ini menjadi yang terlemah sejak Januari 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis yang juga Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tidak naik signifikan hingga akhir tahun. Bahkan, dia menilai IHSG akan berat mencapai level 6.000 pada tahun 2021.

    “Prediksi IHSG fase Juni 2020 kita di puncak curva sehingga di kuartal III dan IV PSBB sudah mulai mereda. Angka masih akan sulit tembus 6.000 ada di tahun 2021,” kata Alfred dalam diskusi virtual, di Jakarta, Minggu, 26 April 2020.

    Menurut Alfred, salah satu sentimen yang paling membuat IHSG sulit untuk rebound yaitu belum adanya kepastian rentang waktu berakhirnya virus Corona atau Covid-19 di Indonesia.

    Dia juga menurutkan buyback saham yang dilakukan BUMN dan non BUMN tidak dapat mendorong harga saham naik. Kenaikan harga saham, kata dia, bisa terjadi jika buyback yang dilakukan juga diiringi dengan pembelian oleh pelaku pasar.

    Sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia(BEI) Inarno Djajadi mengatakan realisasi buyback saham di pasar modal mencapai Rp 876,09 miliar terhitung pada 23 April 2020. "Ini adalah implementasi buyback saham tanpa RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)," ujar Inarno dalam konferensi video, Jumat, 24 April 2020.

    Realisasi tersebut terhitung baru 4,5 persen dari total rencana buyback. Apabila diperinci, realisasi buyback yang dilakukan Badan Usaha Milik Negara baru Rp 181,63 miliar atau 1,8 persen dari total rencana nilai buyback saham perusahaan pelat merah yang sebesar Rp 10,15 triliun.

    Sementara itu, realisasi buyback dari perusahaan non-BUMN baru Rp 694,46 miliar dari non-BUMN. Nilai itu adalah sekitar 7,6 persen dari total rencana buyback perusahaan non pelat merah yang sebesar Rp 9,16 triliun.

    Inarno mengatakan total perusahaan tercatat yang berencana melakukan buyback saham adalah sebanyak 65 perusahaan tercatat, dengan rincian 12 BUMN dan 53 Non-BUMN. Dari 65 perusahaan ini diperkirakan nilai buyback saham bisa mencapai Rp 19,32 triliun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.