Kata Mari Elka Soal Perbedaan Krisis 2008 dan Saat Pandemi Corona

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Pelaksana Kebijakan  Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia, Mari Elka Pangestu, dalam acara Indonesia Millenial Summit di Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020. Tempo/Fajar Pebrianto

    Direktur Pelaksana Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia, Mari Elka Pangestu, dalam acara Indonesia Millenial Summit di Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pelaksana Bank Dunia Mari Elka Pangestu menyampaikan soal beda krisis ekonomi yang terjadi pada 2008 dengan saat pandemi virus corona Covid-19 pada 2020.

    “Jika kita bandingkan dengan 2007, di 2020 situasi sejak awal sudah melemah. Di 2008 tidak, namun kemudian terjadi krisis,” kata Mari Elka pada Public Webinar yang digelar Center for Strategic and International Studies (CSIS), Sabtu, 25 April 2020.

    Mari menyampaikan, pada 2008, tidak semua negara terkena dampak secara ekonomi, di mana kebanyakan hanya pada negara berkembang. Sementara saat ini, krisis ekonomi terjadi di hampir seluruh negara di dunia.

    Selain itu, lanjut Mari, krisis yang terjadi saat ini mengganggu seluruh aspek ekonomi, mulai dari permintaan, stok, perdagangan, keuangan, komoditas, hingga pariwisata.

    “Secara terminologi apa yang terjadi saat ini bisa dibilang yang terburuk setelah perang dunia,” kata Mari.

    Menurut Mari, hal terpenting yang perlu dilakukan saat resesi terjadi di tengah pandemi Covid-19 adalah penyelamatan jiwa, dengan menjaga jarak atau karantina.

    Selain itu, kata dia, memastikan masyarakat menjalankan protokol kesehatan. Misalnya melalui penyediaan sanitasi yang memadai.

    “Bagaimana mungkin kita meminta masyarakat selalu mencuci tangan namun airnya tidak tersedia. Itu penting,” ungkap Mari.

    Selain itu, memastikan ketersediaan pangan tercukupi. Salah satunya dengan tetap menjaga agar sektor pertanian dapat berjalan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

    Kemudian, sektor manufaktur yang menjadi penggerak ekonomi juga dapat tetap beroperasi, dengan ketat menjalankan protokol kesehatan.

    “Bahkan mungkin sebagian lini produksi manufaktur dapat digunakan untuk memproduksi produk kesehatan yang dibutuhkan seperti masker,” ujar Mari.

    Hal yang tidak kalah penting adalah mendukung tenaga medis sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?