Pekan Keenam WFH, Ini Produk yang Paling Laris di E-commerce

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengemas barang pesanan konsumen saat Harbolnas 2018 di Warehouse Lazada, Depok, Rabu, 12 Desember 2018. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Pekerja mengemas barang pesanan konsumen saat Harbolnas 2018 di Warehouse Lazada, Depok, Rabu, 12 Desember 2018. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - CEO PowerCommerce.Asia Hadi Kuncoro mengungkapkan, pola konsumsi masyarakat pada pekan keenam work from home (WFH) atau bekerja dari rumah mulai berubah. Menurut dia, kini masyarakat banyak yang membeli produk furnitur hingga alat-alat kecantikan di e-commerce untuk mengusir kebosanan di rumah.

    "Di fase ini, orang sudah mulai belanja ke kategori lifestyle. Mereka yang enggak bisa ke salon mulai belanja pewarna rambut sendiri dan lain-lain," ujarnya dalam diskusi Smart FM, Sabtu, 25 April 2020.

    Sedangkan untuk perlengkapan furnitur, Hadi menerangkan masyarakat mulai ingin menciptakan kantor mini di rumah untuk membuat suasana kerja menjadi nyaman. Walhasil, barang-barang yang mendukung hal itu pun laris diburu.

    Tak hanya soal furnitur dan alat kecantikan, barang-barang yang berhubungan dengan hobi juga mulai dicari. Hadi mencontohkan, produk-produk yang laris ialah alat-alat penunjang olahraga dalam ruangan, seperti matras. Saat ini, produk-produk tersebut mulai meningkat penjualannya.

    Kondisi tersebut berbeda dengan pekan pertama saat kasus positif virus corona ditemukan di Indonesia. Saat itu, kata dia, orang mengalihkan belanjanya pada vitamin, masker, hingga suplemen lainnya.

    Namun, seiring dengan perkembangannya, fluktuasi penjualan produk kesehatan tersebut sudah mulai melandai. "Mungkin orang sudah mulai tahu ritme bagaimana menghadapi virus corona," ucapnya.

    Meski demikian, tren penjualan produk-produk kesehatan tetap masih di level lebih tinggi ketimbang sebelum virus corona menyerang. Hadi melanjutkan, pola konsumsi masyarakat ini mengubah kondisi secara keseluruhan terhadap penjualan digital.

    Setelah virus corona menyebar, ia melihat tren masyarakat berbelanja online lebih tinggi ketimbang belanja offline. Bila semula tren belanja online hanya tumbuh 7-8 persen per tahun, kini Hadi memproyeksikan situasi corona akan mendorong pertumbuhannya menjadi dobel digit.

    "Bahkan setelah corona berkhir, pertumbuhan pasar digital tidak mungkin kembali lagi ke 7-8 persen," ujarnya.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.