Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Sementara atau Turun Lagi?

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengisi Premium ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan Pertamina menaikkan harga BBM non-subsidi, Pertamax, menjadi Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar Non-PSO Rp 9.800 per liter. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Petugas mengisi Premium ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan Pertamina menaikkan harga BBM non-subsidi, Pertamax, menjadi Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar Non-PSO Rp 9.800 per liter. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, JakartaHarga minyak dunia tercatat naik pada perdagangan Jumat 24 April 2020. Kenaikan ini mengakhiri pekan dengan pergeseran harga drastis ketika kontrak AS terjun ke minus US$40 per barel.

    Hal ini terjadi karena pengurangan produksi global tidak dapat mengimbangi jatuhnya permintaan, sejak awal Maret, sebesar 30 persen yang disebabkan oleh pandemi virus corona. 

    Seperti dilansir melalui Bloomberg, harga minyak berjangka Brent menguat 0,5 persen menjadi US$21,44 per barel, sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7 persen, mendekati US$16,94 per barel. 

    Di samping itu, minyak berjangka menandai kerugian untuk 3 pekan berturut-turut, dengan Brent turun sebesar 24 persen dan WTI turun sekitar 7 persen.

    Stephen Brennock, analis di PVM Oil Associates, mengatakan bahwa hanya ada dua hal yang dapat menyelamatkan pasar dari penderitaan saat ini, yaitu pemulihan permintaan atau pengurangan pasokan tambahan.

    "[Pergerakan yang] rusuh, tak menentu dan belum pernah terjadi sebelumnya akan menandai pekan bersejarah untuk pasar minyak," ujarnya, Sabtu 25 April 2020.

    Dengan tidak ada indikasi yang jelas waktu permintaan akan pulih, pasar akan mengalami kemerosotan berkepanjangan yang akan membentuk kembali industri untuk tahun-tahun mendatang.

    Keruntuhan harga minyak, menurut Bank Dunia, akan diikuti oleh pemulihan harga terlemah dalam sejarah.

    Para pedagang memperkirakan permintaan akan terus berkurang hingga beberapa bulan ke depan karena gangguan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

    Produsen mungkin tidak akan memangkas keluaran secara langsung atau cukup dalam untuk mendorong harga, terutama ketika keluaran ekonomi global diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 2 persen tahun ini, lebih buruk daripada krisis keuangan sebelumnya.

    "Pemotongan produksi membantu sentimen. Butuh perjalanan panjang untuk menyeimbangkan pasar. Pedagang masih sangat khawatir tentang situasi penyimpanan pasokan," kata Andrew Lebow, mitra senior di Commodity Research Group.

    Sebagai contoh, data dari Baker Hughes Co. pada Jumat kemarin, menunjukkan eksplorasi minyak di seluruh AS mengalami penurunan terbesar dalam 14 tahun terakhir dan dengan perusahan pengeboran menutup 60 anjungan migas (rig).

    Ini merupakan penurunan aktivitas produksi selama 6 pekan berturut-turut dan menghentikan hampir setengah dari eksplorasi minyak Amerika.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).