Pemulihan Ekonomi Diprediksi 3 Tahun, Perusahaan Diminta Bersiap

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana lengang jalan Sudirman di Jakarta, Kamis 2 April 2020. Baru-baru ini kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah disahkan Presiden Joko Widodo untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). Selain Pembatasan Sosial Berskala Besar, Presiden Jokowi juga memberikan opsi darurat sipil dalam siaran persnya. Tempo/Tony Hartawan

    Suasana lengang jalan Sudirman di Jakarta, Kamis 2 April 2020. Baru-baru ini kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah disahkan Presiden Joko Widodo untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). Selain Pembatasan Sosial Berskala Besar, Presiden Jokowi juga memberikan opsi darurat sipil dalam siaran persnya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, memprediksi masa pemulihan ekonomi pasca-paceklik virus corona akan berlangsung hingga tiga tahun ke depan atau sampai 2022. Hal ini terlihat dari sejumlah pernyataan dan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah.

    "Kalau kita lihat, dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2020, pemerintah membatasi defisit belanja negara maksimal 3 persen dari PDB sampai 2022. Sedangkan satu tahun ke depan adalah masa transisi," ujar Aviliani dalam diskusi Smart FM, Sabtu, 25 April 2020.

    Tak hanya dari kebijakan pemerintah, proyeksi ini juga diungkapkan oleh pelbagai survei di seluruh dunia. Aviliani menyebut, berdasarkan sejumlah sigi itu, pemulihan ekonomi akibat wabah corona akan lebih berat ketimbang krisis moneter pada 1998 dan 2008.

    Dengan kondisi ini, Aviliani meminta perusahaan-perusahaan segera menyusun asumsi risiko yang lebih lama. Ia menyarankan perusahaan membuat dua skema untuk menghadapi pandemi corona, yakni skema berat dan skema berat skali.

    Skema berat memungkinkan ekonomi perusahaan tumbuh, namun melambat. Sedangkan untuk skema berat sekali, ekonomi akan mengalami kontraksi atau pertumbuhannya minus.

    Skema ini penting agar perusahaan dapat bersiap menghadapi kondisi di depan. "Sebab saat ini banyak perusahaan yang belum mempersiapkan diri. Mereka hanya bilang enggak mampu bertahan seandainya virus ini berlangsung sampai Juni," ujar Aviliani.

    Aviliani mewanti-wanti perusahaan tidak sampai menjual modalnya. "Jadi perusahaan harus tahu mau ngapain. Jangan sampai modal yang sudah masuk, dikeluarkan lagi," katanya.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.