Harga Gula Masih Mahal, Kemendag: Kami Antisipasi Sedini Mungkin

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani tebu dari berbagai daerah di Indonesia menaburkan gula import saat aksi demo didepan istana negara, 28 Agustus 2017. Petani tersebut menuntut harga gula yang merosot tajam rata-rata Rp 9.000-9.500/kg, jauh dibandingkan tahun 2016 yang rata-rata Rp 11.000-11.500/kg. TEMPO/Rizki Putra

    Petani tebu dari berbagai daerah di Indonesia menaburkan gula import saat aksi demo didepan istana negara, 28 Agustus 2017. Petani tersebut menuntut harga gula yang merosot tajam rata-rata Rp 9.000-9.500/kg, jauh dibandingkan tahun 2016 yang rata-rata Rp 11.000-11.500/kg. TEMPO/Rizki Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto memastikan kementeriannya telah melakukan sejumlah langkah untuk menekan turun harga gula pasir di pasaran. Saat ini harga komoditas itu masih melambung di kisaran Rp 18.000 per kilogram.

     

    "Kalau ditanya langkah konkret yang dilakukan kemendag, kami dari jajaran kemendag sudah mengantisipasi sedini mungkin tentang kemungkinan kenaikan harga ini," ujar dia dalam rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis, 23 April 2020.

     

    Suhanto mengatakan sebelumnya Kemendag sudah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan impor gula. Impor dinilai perlu dilakukan untuk mengisi kekurangan pasokan akibat mundurnya musim giling yang mestinya mulai April ke Juni. Mundurnya musim giling tersebut disebabkan oleh panjangnya musim kemarau.

     

    "Untuk mengisi itu, Kemendag melakukan langkah konkret seperti mengisi dengan berbagai kebijakan, misalnya memberikan izin impor gula kristal mentah yang bisa diolah menjadi gula kristal putih oleh produsen gula berbasis tebu," ujar Suhanto.

     

    Namun, rencana impor tersebut mengalami kendala dalam realisasi lantaran berbagai alasan, salah satunya adalah dengan adanya wabah Virus Corona alias COVID-19. Munculnya pagebluk membuat negara asal impor melakukan kebijakan seperti lockdown yang menghambat pembelian.

     

    Akhirnya, langkah yang lebih strategis dilakukan Kemendag antara lain dengan merelokasi gula dari bahan gula mentah rafinasi untuk industri mamin ke gula kristal putih konsumsi sebanyak 250.000 ton. Suhanto berujar kebijakan itu diambil melalui rapat koordinasi terbatas dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

     

    Langkah tersebut ternyata tidak serta merta bisa menarik harga gula turun. Suhanto mengatakan para produsen tidak mengerahkan penggilingannya 100 persen untuk membuat gula konsumsi, melainkan juga tetap memperhitungkan kebutuhan industri makanan dan minuman. Sehingga, kapasitas produksi dibagi 50 persen banding 50 persen untuk memproduksi dua jenis gula tersebut.

     

    Hingga Kamis kemarin, realisasi dari relokasi itu baru mencapai 86 ribu ton. Adapun kapasitas produksi gula kristal putih konsumsi per hari rata-rata dari sepuluh perusahaan adalah sebanyak 8.000 ton. Di samping itu, Suhanto melihat persoalan lainnya adalah distribusi yang perlu waktu.

     

    "Sehingga barangkali masih didapati di beberapa daerah masih terjadi kekurangan," ujar dia. Berdasarkan informasi dari produsen yang mendapat penugasan, Suhanto mengatakan mereka akan menggenjot lagi produksi gula pasir dan paling lambat sepekan ini kebutuhan gula bagi masyarakat akan terpenuhi.

     

    Suhanto menyebutkan stok gula pasir per 31 Maret lalu adalah sebesar 166.531 ton, jumlah tersebut terdiri dari perkiraan stok di pabrik gula dan pedagang sebesar 60.000 ton dan pengadaan impor gula pada Maret sebesar 111.500 ton atau setara dengan gula kristal putih sebesar 105.925 ton.

     

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.