Arcandra Tahar: Harga Minyak Turun, Harga BBM Tak Berarti Rp 0

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengemudi ojek online melakukan pengisian BBM di SPBU Cikini, Jakarta, Selasa, 14 April 2020. PT. Pertamina memberikan bantuan cashback 50% kepada ojek darling hingga 12 Juli 2020 demi mereda pandemi virus corona. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pengemudi ojek online melakukan pengisian BBM di SPBU Cikini, Jakarta, Selasa, 14 April 2020. PT. Pertamina memberikan bantuan cashback 50% kepada ojek darling hingga 12 Juli 2020 demi mereda pandemi virus corona. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar mengatakan anjloknya harga minyak hingga di posisi minus tidak serta merta sama dengan harga di tingkat retail.

    "Apabila harga minyak di AS US$ 0 per barel, apakah harga BBM gasoline di SPBU per galon juga US$ 0? Tentu tidak," ujar dia melalui akun instagram resminya, @arcandra.tahar, Rabu, 23 April 2020.

    Di Amerika Serikat, kata Arcandra, berdasarkan data tahun lalu, struktur harga bahan bakar minyak di SPBU per galon ditentukan oleh beberapa komponen. Komponen itu antara lain transportasi dan pemasaran US$ 39 sen, biaya dan keuntungan pengolahan US$ 34 sen, pajak BBM US$ 18 sen, pajak daerah rata-rata US$ 36 sen. Maka, total akan diperoleh angka US$ 1,27 per galon.

    Dengan adanya tambahan marjin di SPBU sekitar US$ 10 sen per galon, maka harga jual BBM akan menjadi sebesar US$ 1,37 per galon atau setara US$ 0,36 sen per liter. apabila dirupiahkan, harga jualnya menjadi Rp 5.422 per liter dengan asumsi Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat.

    "Untuk beberapa negara bagian, biaya Transportation & Marketing dan juga State Tax bisa lebih rendah dari angka diatas, di Texas misalnya State Tax hanya US$ 20 sen per gallon," tutur Arcandra. "Inilah kira-kira komposisi pembentuk harga retail SPBU di AS dengan asumsi harga minyak US$ 0."

    Penjelasan Arcandra itu berkaitan dengan banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai imbas jatuhnya harga minyak di Amerika Serikat dan implikasinya kepada harga retail. Pada Senin lalu, harga minyak WTI jatuh hingga di level minus.

    Menurut Arcandra, ada sejumlah faktor yang membuat harga minyak untuk pengantaran bulan Mei menjadi negatif. Faktor pertama adalah penuhnya ruang penyimpanan di negeri Abang Sam, sehingga tidak ada lagi ruang penampungan dari produksi minyak AS yang kini berkisar antara 12-13 juta barel per hari.

    Faktor kedua, tutur Arcandra Tahar, ketika transaksi perdagangan akan ditutup untuk pengantaran bulan Mei, hanya sedikit yang melakukan trading. Sehingga, harga terus turun. "Dan harga ini belum tentu mencerminkan harga yang sebenarnya."

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.