Dirut Pertamina: Permintaan BBM Nasional Turun hingga 34,9 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengemudi ojek online melakukan pengisian BBM di SPBU Cikini, Jakarta, Selasa, 14 April 2020. PT. Pertamina memberikan bantuan cashback 50% kepada ojek darling hingga 12 Juli 2020 demi mereda pandemi virus corona. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pengemudi ojek online melakukan pengisian BBM di SPBU Cikini, Jakarta, Selasa, 14 April 2020. PT. Pertamina memberikan bantuan cashback 50% kepada ojek darling hingga 12 Juli 2020 demi mereda pandemi virus corona. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasokan bahan bakar minyak PT Pertamina (Persero) melimpah akibat rendahnya permintaan. Perusahaan menjajaki ekspor hingga inovasi layanan untuk meningkatkan penyerapan bahan bakar.

    Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menyatakan rata-rata permintaan BBM secara nasional menurun hingga 34,9 persen. Di antara semua jenis bahan bakar, avtur mengalami penurunan paling drastis. Rata-rata penjualan harian bahan bakar pesawat itu turun hingga 45 persen.

    Nicke menyatakan perusahaan mulai berupaya mengekspor avtur demi mengurangi pasokan yang kini cukup hingga 91 hari. "Ekspor bisa menambah pendapatan walaupun harga sedang tidak bagus," katanya, Rabu 22 April 2020. Cina menjadi salah satu sasaran pasar ekspor perusahaan pelat merah itu. Hingga kemarin setidaknya satu kargo avtur telah terhasil dikirim ke negara tersebut.

    Selain avtur, Pertamina juga memiliki kelebihan pasokan Solar. Pembatasan kegiatan di dalam negeri akibat Covid-19 membuat stoknya mencapai 2,05 juta kiloliter atau setara kebutuhan normal selama 33 hari. Nicke telah berkirim surat memohon penutupan keran impor solar kepada Kementerian ESDM untuk memastikan pasokannya terserap. "Kami juga meminta agar pemerintah memprioritaskan pembelian perusahaan pemegang Izin Niaga Umum dari Pertamina," ujarnya.

    Untuk meningkatkan penjualan produk lainnya, Pertamina menggunakan strategi jemput bola. Perusahaan menggandeng ojek online untuk mengantarkan langsung produk BBM dalam kemasan kepada pelanggan. Produk lain seperti LPG dan pelumas pun tak luput dalam layanan ini.

    Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Tallatov menyatakan rencana ekspor Pertamina dapat menjadi alternatif terbaik untuk penyerapan avtur. "Cina berpotensi menjadi pasar karena beberapa penerbangan di sana sudah mulai beroperasi usai penanganan Covid-19," kata dia.

    Namun selain ekspor, Abra melihat ada peluang penyerapan avtur di pasar domestik dari industri pesawat kargo. Dia menilai kargo berpotensi melonjak asalkan ada dorongan dari pemerintah. "Kargo perlu diberikan relaksasi sehingga pesawat untuk logistik tetap terbang dan dapat menyerap avtur Pertamina," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.