Meski Harga Minyak Jeblok, BI Yakin Rupiah Menguat 15.000 per USD

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo atau ilustrasi Bank Indonesia. TEMPO/Imam Sukamto

    Logo atau ilustrasi Bank Indonesia. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI optimistis nilai tukar rupiah bergerak stabil dan menguat mengarah Rp 15.000 per dolar AS hingga akhir tahun 2020. Penguatan kurs ini terjadi meski harga minyak dunia jatuh karena secara fundamental indikator ekonomi RI lebih kuat.

    “Kami yakini secara tren, secara fundamental, nilai tukar rupiah itu undervalue. Dengan berbagai indikator, kami yakini (rupiah) akan bergerak menguat,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers online di Jakarta, Rabu, 22 April 2020.

    Perry menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi faktor fundamental dan teknis. Secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini termasuk undervalue yang ditunjukkan dengan tingkat inflasi rendah. Selain karena inflasi, defisit transaksi berjalan (CAD) diperkirakan akan lebih rendah.

    Pada triwulan pertama tahun ini CAD diperkirakan lebih rendah 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara secara keseluruhan tahun ini, Perry memperkirakan CAD terkendali yakni tidak sampai 2 persen dari PDB atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 2,5-3 persen dari PDB.

    Sedangkan secara teknis, anjloknya harga minyak dunia mempengaruhi nilai tukar rupiah dari hari ke hari. Jebloknya harga minyak dunia dipengaruhi wabah virus Corona dan sebelumnya juga anjlok dipicu perselisihan antara Arab Saudi dan Rusia terkait pemangkasan produksi minyak. Selain karena harga minyak, faktor teknis yang mempengaruhi nilai tukar rupiah adalah persoalan geopolitik.

    Meski begitu, menurut Perry, tidak semua faktor teknis membawa dampak buruk bagi rupiah. Pasalnya, ada juga dampak positif baik dari global maupun dalam negeri.

    Secara global pembukaan masa karantina wilayah atau lockdown di beberapa kota di Amerika Serikat dan dari sisi dalam negeri, terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengatasi Covid-19 juga memberikan dampak baik kepada pergerakan rupiah.  Selain rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga tidak selalu mengikuti perkembangan luar negeri.

    Perry mencontohkan, IHSG pada hari ini menghijau, bahkan naik level 4.570 berarti naik 68 poin. "Ini menunjukkan investor domestik juga melihat perkembangan positif, sehingga apa yang terjadi di global tidak selalu diikuti di dalam negeri,” katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.