BI Sebut Minat Investor Asing di SBN Tinggi Meski Pandemi Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan dalam acara Digital Transformation For Indonesian Economy di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2020. TEMPO menggelar acara diskusi bertajuk Digital Transformation For Indonesian Economy dengan tema Finding The New Business Models. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan dalam acara Digital Transformation For Indonesian Economy di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2020. TEMPO menggelar acara diskusi bertajuk Digital Transformation For Indonesian Economy dengan tema Finding The New Business Models. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan tingginya minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara atau SBN di tengah wabah corona. Menurut catatan Bank Indonesia, investasi portofolio pada Surat Berharga Negara (SBN) yang masuk ke Indonesia pada 13 April 2020 sampai 20 April 2020 mencapai Rp 4,37 triliun.

    Masuknya arus modal di tengah Covid-19 ini dinilai menunjukkan kepercayaan asing terhadap aset keuangan di Indonesia berangsur mengalami kenaikan. “Memang saham masih outflow Rp 2,8 triliun, sehingga sehingga secara neto inflow asing ke portofolio Indonesia mencapai Rp 1,57 triliun,” kata Perry dalam konferensi pers online di Jakarta, Rabu, 22 April 2020.

    Perry mengatakan ada dua faktor yang menyebabkan investasi asing ini masih terus masuk ke Indonesia. Kedua faktor ini biasanya yang menjadi pertimbangan utama investor global selama ini.

    Pertama yaitu imbal hasil investasi portofolio SBN Indonesia yang masih cukup menarik. Sebagai contoh, yield spread obligasi Indonesia untuk tenor 10 tahun dengan US treasury memiliki perbedaan 7,1 persen. “Ini cukup menarik untuk investasi portofolio di Indonesia,” kata dia.

    Sementara jika diukur dengan yield secara riil (yield dikurangi inflasi) surat utang pemerintah Indonesia ini juga masih menarik. Dengan ekspektasi inflasi 4,6 persen, maka yield di Indonesia masih lebih tinggi dari Meksiko, India, maupun negara Asia lainnya.

    Faktor kedua yaitu premi resiko yang terus menurun. Sebelum Covid-19, kata Perry, BI mencatat volatility index (vix) di angka 18,8. Lalu saat puncak Covid-19 pada minggu kedua Maret 2020 di Indonesia, index ini naik menjadi 83,2. Lalu pada data terakhir, angkanya sudah turun menjadi 43,8. 

    Situasi ini, kata Perry, menunjukan kepanikan pasar keuangan yang mencapai puncak pada minggu kedua Maret sudah berangsur reda. Meski ketidakpastian masih berlangsung, namun jauh lebih rendah. 

    Kedua situasi inilah yang membuat BI yakin daya tarik investasi di aset keuangan Indonesia, khususnya SBN, akan semakin meningkat. “Ini juga yang mendasari perkiraan kami bahwa itu mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.