Pengamat: Pertamina Tak Bisa Borong Minyak Meski Harga Anjlok

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi Menteri BUMN Erick Thohir dan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama mendengarkan penjelasan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat meninjau ke kawasan kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, Sabtu, 21 Desember 2019. ANTARA

    Presiden Joko Widodo didampingi Menteri BUMN Erick Thohir dan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama mendengarkan penjelasan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat meninjau ke kawasan kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, Sabtu, 21 Desember 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Institute Development of Economic and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan anjloknya harga minyak dunia tidak serta-merta membuat Pertamina dapat menurunkan harga bensin di tingkat konsumen.

    Meski harga minyak mentah dunia turun signifikan, harga yang dibayar pengusaha RI tetap tinggi karena ada kompensasi dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar.

    "Sekarang harus dipastikan dulu harga keekonomian berapa. Menurut saya, tetap di atas US$ 25 per barel. Pertamina mungkin bisa menurunkan harga, tetapi harus hati-hati dan bertahap. Pastikan dulu BPP (biaya pokok produksi)," katanya ketika dihubungi, Rabu, 22 April 2020.

    Tauhid menuturkan tergelincirnya harga minyak dunia membuat banyak negara memborong dalam jumlah besar untuk memenuhi pasokan. Hal tersebut telah dilakukan oleh Amerika Serikat dan China.

    Namun, dia menilai hal itu tidak dapat berlaku di Indonesia. Pasalnya, AS dan China memiliki kilang minyak terbesar di dunia yang dapat menampung minyak dalam jumlah besar. Sayangnya, jumlah kilang minyak di Indonesia tidak banyak.

    Apalagi, bisnis Pertamina tidak sekadar menjual bensin, tetapi sangat bervariasi dari hulu hingga hilir. Jika tidak hati-hati dalam mengambil keputusan, lanjutnya, Pertamina justru malah merugi di tengah ketidakpastian situasi ekonomi akibat wabah pandemi virus Corona (Covid-19).

    "Kompetitor mungkin bisa menurunkan harga, tetapi Pertamina tidak. Ke depan, harga bisa makin rendah. Jika main diturunkan, Pertamina bisa-bisa merugi," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.