Menperin: Industri Tekstil Paling Terpukul Larangan Mudik

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini sebagian industri dalam negeri akan terkena imbas kebijakan larangan mudik lebaran 2020. Pemerintah pun, kata dia, sudah bersiap untuk menghadapi kenyataan tersebut.

    “Lebaran tahun ini akan berbeda dengan lebaran sebelumnya,” kata Agus dalam media gathering online di Jakarta, Selasa, 21 April 2020.

    Menurut Agus, salah satu industri yang bakal terkena imbas adalah industri garmen dan tekstil. Sederhananya larangan mudik akan membuat kegiatan berkumpul masyarakat di saat lebaran akan berkurang. “Maka kemungkinan besar masyarakat tidak belanja baju baru, dan sebagainya,” kata Agus.

    Beberapa jam sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah memutuskan untuk melarang masyarakat untuk mudik lebaran 2020. Larangan ini diterbitkan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Data terakhir menunjukkan kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 6.760.

    "Pada hari ini, saya mengambil keputusan besar. Dalam rapat hari ini saya sampaikan bahwa mudik semuanya akan kita larang. Oleh karena itu, persiapan mengenai semua ini harap dipersiapkan," ujar Jokowi via telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta.

    Sebelumnya, kebijakan pemerintah untuk mudik lebaran 2020 hanya sebatas mengimbau masyarakat tidak mudik saja. Tidak ada larangan secara resmi. Namun, Presiden Jokowi juga menyatakan tidak menutup peluang melarang mudik, sesuai evaluasi perkembangan di lapangan. Sikap presiden ini banyak dikritik karena dianggap tidak tegas.

    Agus menambahkan masih ada sebenarnya pasar yang bisa diciptakan oleh pemerintah. Salah satunya lewat bantuan jaring pengaman sosial sebesar Rp 110 triliun yang diberikan untuk masyarakat terdampak Covid-19. “Intinya, ini untuk mendukung daya beli masyarakat agar tetap terjaga, paling tidak masyarakat tetap belanja makanan minuman,” ujarnya.

    Sehingga, Agus menyebut industri makanan minuman masih akan menjadi salah satu yang bertahan, bahkan mengalami demand tertinggi. Selain itu, industri lainnya yang mengalami kenaikan permintaan adalah industri farmasi dan industri alat kesehatan.

    Adapun industri tekstil menjadi satu di antara sejumlah industri yang paling menderita, akibat Covid-19 maupun larangan mudik 2020. Selain industri tekstil, ada juga industri mebel dan kerajinan, industri pesawat terbang dan kereta api, hingga industri otomotif dan karet.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.