Harga Minyak Dunia Anjlok, SKK Migas Siapkan Stimulus Sektor Hulu

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengisi Premium ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Hukum ekonomi mengatur bahwa BBM, yang bahan baku utamanya minyak mentah, memang harus naik harganya jika harga minyak mentah dunia naik. Harga minyak mentah dunia sudah naik lebih dari dua kali lipat atau 200 persen sejak 2016 berkisar US$ 32 per barel, dan saat ini melambung di kisaran US$ 80 per barel. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Petugas mengisi Premium ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Hukum ekonomi mengatur bahwa BBM, yang bahan baku utamanya minyak mentah, memang harus naik harganya jika harga minyak mentah dunia naik. Harga minyak mentah dunia sudah naik lebih dari dua kali lipat atau 200 persen sejak 2016 berkisar US$ 32 per barel, dan saat ini melambung di kisaran US$ 80 per barel. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Menyikapi pelemahan harga minyak dunia, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas menyiapkan stimulus untuk industri di sektor hulu.

    Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan pihaknya bersama dengan stakeholder terkait tengah mempersiapkan stimulus guna menjaga keberlangsungan usaha hulu migas.

    Dia mengungkapkan pemerintah akan memberikan stimulus berupa kebijakan fiskal untuk para kontraktor. "Macam-macam, terkait dengan pajak dan lain-lain," katanya kepada Bisnis, Selasa, 21 April 2020.

    Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei 2020 diperdagangkan di level US$ 1,17 per barel di New York Mercantile Exchange pukul 09.47 pagi waktu Singapura, setelah ditutup di level -US$ 37,63 pada Senin, 20 April 2020, karena memasuki sesi perdagangan finalnya untuk periode kontrak ini.

    Menanggapi hal tersebut, Fatar mengatakan hingga kini pihaknya masih terus memantau pergerakan harga minyak tersebut. Pasalnya, pergerakan yang sangat berfluktuasi pada beberapa waktu terakhir sulit untuk diprediksi.

    "Kalau sesaat, kita mesti hati-hati ambil keputusan. Kami terus berkoordinasi dengan Kemenkeu, Kementerian ESDM dan KKKS apa yang harus dilakukan kalau stimulus juga tidak bisa membantu," ungkapnya.

    Terkait dengan pemangkasan produksi, Fatar menyebut pihaknya belum menyiapkan opsi tersebut dengan mempertimbangkan kondisi dalam negeri.

    "Belum ada opsi curtailment. Konsumsi minyak di negara kita lebih besar dari produksi. Kecuali orang sudah tidak berkendaraan lagi dan WFH terus, bisa berubah itu," katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.