Ekonomi: Target Investasi RI 2020 Sulit Dicapai karena Pandemi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berjalan kaki melewati kawasan jalan Sudirman, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Pada hari ke-11 pemberlakuan PSBB di Jakarta, aktivitas warga di kawasan perkantoran Sudirman terlihat masih ramai. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Warga berjalan kaki melewati kawasan jalan Sudirman, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Pada hari ke-11 pemberlakuan PSBB di Jakarta, aktivitas warga di kawasan perkantoran Sudirman terlihat masih ramai. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Bank Permata Josua Pardede  memperkirakan target investasi tahun ini yang sebesar Rp886,1 triliun akan sulit dicapai, seiring dengan dampak Covid-19 yang telah mengganggu aktivitas ekonomi global. 

    Dia juga memprediksi realisasi di kuartal II/2020, baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) akan terkontaksi karena aktivitas sejumlah sektor seperti manufaktur, perdagangan dan sebagian besar sektor ekonomi lainnya terganggu Covid-19.

    "Target tahun 2020 yang sulit tercapai tersebut didasarkan pada ekspektasi resesi perekonomian global meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih tetap positif," katanya kepada Bisnis, Senin 20 April 2020.

    Josua menjelaskan di tengah risiko resesi perekonomian global tersebut, terlalu berisiko bagi investor untuk menanamkan investasinya pada suatu negara meskipun perekonomian negara tersebut tetap tumbuh positif sekalipun.

    Bagi investor domestik pun, dalam jangka pendek ini belum akan memikirkan untuk melakukan ekspansi bisnisnya dan fokus untuk bertahan menjaga kelancaran arus kas dan kondisi likuiditas.

    Adapun, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi kuartal I/2020 sebesar Rp 210,7 triliun atau naik 8,0 persen secara tahunan.

    Kenaikan yang besar dialami dari investasi PMDN yang meningkat 29,3 persen menjadi Rp112,7 triliun. Sementara PMA tercatat turun 9,2 persen yoy menjadi Rp98,0 triliun.

    Josua mengatakan masih tingginya komitmen investasi pada awal tahun ini didorong oleh ekspektasi perbaikan ekonomi global dan domestik sehingga mendorong optimisme pelaku usaha dan secara khusus investor domestik.

    Harapan investor domestik terkait pembahasan RUU Omnibus Law juga turut memberikan kepercayaan dan optimisme bahwa proses perizinan berinvestasi di Indonesia akan semakin cepat dan mudah.

    Selain itu, insentif fiskal pemerintah juga turut memberikan dorongan positif bagi investasi sejak akhir tahun hingga sebelum pandemi COVID-19 secara global.

    Meski demikian, aktivitas ekonomi yang terganggu akibat Covid-19, serta ketidakpastian di pasar keuangan global yang meningkat juga turut mendorong volatilitas nilai tukar sehingga diperkirakan akan turut mempengaruhi keputusan investor asing.

    Selain itu, respon kebijakan pemerintah seperti pembatasan sosial berskala besar pada sebagian besar daerah di Indonesia juga berpotensi akan mengganggu aktivitas perizinan dan aktivitas proyek-proyek pembangunan pabrik-pabrik dan infrastruktur terkait industri.

    "Dengan demikian, investor cenderung akan menunda keputusannya untuk berinvestasi sampai dengan pandemi COVID-19 berakhir secara global dan domestik, realisasi investasi PMDN dan PMA akan mulai membaik paling cepat akhir kuartal II/2020 atau awal kuartal IV/2020," kata dia.

    Kedepannya, Josua menyampaikan, seiring dengan pemulihan ekonomi Indonesia pasca Covid-19, maka realisasi investasi keseluruhan diperkirakan akan semakin membaik pada 2 tahun mendatang.

    Prediksi ini mengingat RUU Omnibus Law yang juga akan mendorong optimisme bahwa proses perizinan akan semakin cepat dan mudah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.