Evaluasi PSBB, BNPB: Banyak Pekerja Masih Pergi ke Kantor

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga keluar dari Stasiun MRT Dukuh Atas di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Wali Kota Jakarta Pusat Bayu Meghantara mengatakan bahwa semua aktivitas perkantoran di sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman sudah mematuhi aturan PSBB. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Warga keluar dari Stasiun MRT Dukuh Atas di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin, 20 April 2020. Wali Kota Jakarta Pusat Bayu Meghantara mengatakan bahwa semua aktivitas perkantoran di sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman sudah mematuhi aturan PSBB. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jabodetabek masih ada yang belum efektif. 

    “Artinya halte, kemudian stasiun, dan terminal sudah mengalami banyak penurunan. Persoalannya bukan pada transportasinya tetapi persoalannya ada di hulu yaitu masih banyaknya pekerja yang bekerja di kantor,” ujar Doni yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dalam keterangan tertulis di laman resmi sekretariat kabinet, setkab.go.id, Selasa, 21 April 2020.

     

    Menurut Doni, efektifitas PSBB harus diupayakan, mulai dari tingkat imbauan kemudian akhirnya juga memberikan teguran, dan peringatan. Sampai akhirnya, kata dia, diharapkan gugus tugas daerah ini bisa lebih tegas lagi untuk memberikan sanksi kepada perkantoran dan juga perusahaan-perusahaan yang masih belum mematuhi protokol kesehatan.

     

    Parameter keberhasilan penerapan PSBB, tutur Doni, dapat dilihat dari grafik penyebaran penyakit tersebut. ia melihat sejauh ini grafiknya masih mengalami peningkatan, tetapi ini jauh lebih kecil dibandingkan sejumlah permodelan yang telah dibuat oleh pakar-pakar di bidang matematika.

     

    Oleh karena itu, ia mengatakan momentum ini mesti dimanfaatkan untuk bisa meningkatkan disiplin, disiplin pribadi, disiplin kolektif, kesadaran pribadi, kesadaran kolektif bahwa seseorang tidak akan bisa bekerja sendirian tanpa didukung oleh lingkungannya. “Ini pun harus menjadi salah satu ujung tombak kita sebagaimana tadi telah disampaikan bahwa WHO sendiri telah memberikan apresiasi tentang keterlibatan banyak pihak di Indonesia termasuk para relawan,” tutur Doni.

     

    Menurut Doni, ke depan peran dari tokoh-tokoh non-formal perlu didorong supaya bisa menyampaikan pesan yang menggunakan bahasa lokal dan bisa diterjemahkan dengan cara yang tepat. Sehingga masyarakat sadar dan paham bahwa Corona adalah virus yang sangat berbahaya bisa menyerang siapa saja dan dapat menimbulkan kematian.

     

    “Dan yang perlu kita catat di sini adalah kelompok muda yang memiliki mobilitas yang sangat tinggi, mereka bisa datang ke satu tempat, kembali ke rumah. Lantas kalau mereka tidak memahami ini, di rumah pun mereka dapat menulari saudara-saudaranya, dapat menulari orang tuanya,” kata Doni.

     

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.