Rupiah Diprediksi Lanjutkan Penguatan ke 15.320 per Dolar AS

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menjual mata uang dolar di money changer kawasan Kwitang, Jakarta, 25 Agustus 2015. Mata uang rupiah pada transaksi hari ini, Selasa 25 Agustus 2015, semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat di level Rp14.060 per Dolar AS. TEMPO/Subekti

    Warga menjual mata uang dolar di money changer kawasan Kwitang, Jakarta, 25 Agustus 2015. Mata uang rupiah pada transaksi hari ini, Selasa 25 Agustus 2015, semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat di level Rp14.060 per Dolar AS. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah bakal menguat pada pembukaan perdagangan hari ini di level Rp 15.320 per dolar AS. Rupiah diprediksi melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini  seiring dengan sentimen positif di pasar yang masing mendukung rupiah.

    "Rupiah masih berpeluang untuk menguat pada perdagangan Selasa dan bergerak di kisaran Rp 15.320 - Rp 15.500 per dolar AS," ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa, 21 April 2020.

    Sebelumnya data Bloomberg menunjukkan pada perdagangan Senin kemarin rupiah berada di level Rp 15.412 per dolar AS. Artinya rupiah menguat 0,34 persen atau terapresiasi 53 poin. Penguatan itu pun menjadi kinerja harian mata uang terbaik di Asia, tepat di atas peso Filipina dan baht yang sama-sama menguat 0,26 persen terhadap dolar AS.

    Lebih jauh Ibrahim mengatakan bahwa penguatan rupiah disebabkan oleh adanya rencana pelonggaran penutupan wilayah AS dan negara-negara di kawasan Eropa seiring dengan berkurangnya kasus positif Corona di dua kawasan itu.

    Pelonggaran penutupan wilayah tersebut menjadi katalis positif karena perekonomian dari negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu siap berputar kembali sehingga dapat membatasi pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia.

    Selain itu, penurunan outlook peringkat surat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional S&P Global Rating ternyata tidak mempengaruhi rupiah untuk bergerak melemah.

    Seperti yang diketahui, S&P Global Ratings merevisi  prospek utang jangka panjang Indonesia menjadi negatif daripada sebelumnya stabil. Kendati demikian, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di BBB dan AA untuk utang jangka pendek.

    Penurunan outlook tersebut, menurut Ibrahim, masih cukup bagus buat pasar obligasi dalam negeri sehingga arus modal kembali masuk ke pasar valas dan obligasi. "Ini mengindikasikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup bagus walaupun di tengah pandemi."

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.