S&P Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menjadi 1,8 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi atau Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo

    Ilustrasi atau Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 1,8 persen pada tahun 2020 sebagai dampak dari pandemi corona

    Namun, BI menyebut prediksi pertumbuhan rendah dari lembaga pemeringkat kredit ini tidak akan berlangsung lama. “Sebelum membaik secara kuat pada satu atau dua tahun ke depan,” tulis pihak Bank Indonesia dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 17 April 2020.

    Menurut BI, keputusan pemerintah untuk mengeluarkan sejumlah langkah kebijakan fiskal yang berani akan membantu mencegah pemburukan ekonomi jangka panjang. Sehingga, tingkat pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia diperkirakan akan tetap jauh di atas rata-rata negara peers

    BI juga mengatakan proyeksi dari S&P ini selaras dengan hasil penilaian yang dirilis pasca Rapat Dewan Gubernur BI pada 13 sampai 14 April 2020. Dalam penilaian tersebut, dampak negatif dari kontraksi ekonomi global dan upaya pencegahan penyebaran COVID-19 diperkirakan terjadi terutama pada triwulan II dan III 2020, untuk kemudian mulai membaik pada triwulan IV 2020. 

    Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 2,3 persen pada 2020 dan meningkat lebih tinggi pada 2021. Dari sisi eksternal, berkurangnya kebutuhan impor barang dan jasa transportasi serta pembayaran imbal hasil investasi menyebabkan berkurangnya defisit transaksi berjalan sehingga memperkecil kebutuhan pembiayaan dari luar negeri secara signifikan. 

    Oleh karena itu, prospek Neraca Pembayaran Indonesia 2020 diperkirakan tetap baik sehingga dapat memperkuat ketahanan sektor eksternal. Ketahanan sektor eksternal juga ditopang oleh cadangan devisa yang pada akhir Maret 2020 berjumlah US$ 121,0 miliar atau setara dengan pembayaran 7 bulan impor dan kewajiban utang luar negeri Pemerintah, dan akan meningkat pada akhir April 2020. 

    Kondisi ini PUN berdampak positif terhadap nilai tukar Rupiah yang diperkirakan  bergerak stabil dan cenderung menguat ke arah Rp 15.000 per dolar AS pada akhir 2020. Kemudian, laju inflasi yang tetap rendah dan stabil dalam kisaran sasaran 3,0 persen plus minus 1 persen pada 2020 dan 2021. 

    Di sektor keuangan, Bank Indonesia menyebut stabilitas sistem keuangan masih tetap terjaga. Rasio Kecukupan Modal (CAR) perbankan pada Februari 2020 masih cukup tinggi, yakni 22,27 persen. Rasio Kredit Bermasalah (NPL) masih rendah, yakni 2,79 persen (gross) dan 1,04 persen (net). 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).