Corona, YLKI: Momen Tepat Pemerintah untuk Naikkan Cukai Rokok

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani menutup lembaran tembakau kering di Desa Dampit, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 23 Agustus 2016. Pemerintah belum mengambil kebijakan baru terkait kenaikan cukai rokok atau harga jual eceran. TEMPO/Prima Mulia

    Petani menutup lembaran tembakau kering di Desa Dampit, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 23 Agustus 2016. Pemerintah belum mengambil kebijakan baru terkait kenaikan cukai rokok atau harga jual eceran. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta pemerintah menjadikan momen pandemi virus Corona baru atau Covid-19 untuk menaikkan cukai rokok setinggi mungkin.

    Pasalnya, salah satu dampak rokok adalah gangguan saluran pernafasan dan paru-paru. Sementara virus Corona atau Covid-19 menyerang pernafasan dan paru-paru.

    Jadi, merokok menjadi salah satu faktor yang membahayakan bagi individu ketika dirinya terkena virus Corona. “Ini menjadi momen menaikkan cukai rokok setinggi mungkin,” kata Tulus, Kamis, 16 April 2020.

    Tulus menjelaskan, cukai rokok di Indonesia merupakan yang terendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain, yakni 57 persen. Namun, di lapangan cukai tersebut rata-rata baru sekitar 40 persen dari harga jual. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memiliki standar cukai rokok sebesar 75 persen dari harga jual.

    Oleh karena itu YLKI meminta Presiden Joko Widodo untuk membuat pernyataan kepada masyarakat agar berhenti merokok sebelum terjadi infeksi Covid-19 kepada perokok itu sendiri dan keluarganya.

    Terlebih perilaku merokok adalah faktor risiko terbesar penyebab penyakit tak menular (PTM) yang merupakan penyebab utama beban penyakit dan kematian di Indonesia. Adapun penyakit tak menular antara lain kanker, stroke, gagal ginjal, diabetes dan hipertensi.

    Orang yang memiliki penyakit tidak menular, sangat rentan terinfeksi virus Corona. Tanpa disadari, hubungan PTM dengan perilaku merokok sangat mengkhawatirkan, karena indonesia memiliki prevalensi perokok tertinggi di dunia dengan 63 persen laki-laki dewasa adalah perokok aktif.

    Tingginya angka perokok tentu akan memperburuk insiden PTM. Bahkan data Riskesda pada 2018 menunjukkan bahwa penyebab utama kematian di Indonesia adalah kanker, stroke, gagal ginjal, diabetes dan hipertensi.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?