Maret, Impor Senjata dan Amunisi Melonjak 7.000 Persen Lebih

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memusnahkan barang sitaan Bea dan Cukai bersama PT Pos Indonesia (Persero) hasil pengawasan terhadap barang kiriman impor di Kantor Bea dan Cukai Pasar Baru, Jakarta, Jumat 9 Agustus 2019. Pemusnahan Barang Milik Negara (BMN) sebanyak 7972 barang tersebut diantaranya berupa 260 barang asusila, 7149 kosmetik dan obat-obatan, 263 part senjata, 23 panah dan 277 tanaman. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas memusnahkan barang sitaan Bea dan Cukai bersama PT Pos Indonesia (Persero) hasil pengawasan terhadap barang kiriman impor di Kantor Bea dan Cukai Pasar Baru, Jakarta, Jumat 9 Agustus 2019. Pemusnahan Barang Milik Negara (BMN) sebanyak 7972 barang tersebut diantaranya berupa 260 barang asusila, 7149 kosmetik dan obat-obatan, 263 part senjata, 23 panah dan 277 tanaman. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Di tengah pandemi corona baru atau Covid-19, angka impor produk senjata dan amunisi serta bagiannya meningkat tajam. Sepanjang Maret 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor senjata mencapai US$ 187,1 juta, naik hingga 7.384 persen, dibandingkan Februari 2020 yang hanya US$ 2,5 juta.

    Nilai impor senjata sebesar US$ 187,1 juta ini juga naik 8.809 persen dibandingkan Maret 2019 yang hanya US$ 2,1 juta. “Ini rutin dilakukan setiap tahun untuk pertahanan dan keamanan. Kebetulan 2020 jatuhnya Maret 2020,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers online di Jakarta, Rabu 15 April 2020.

    Dengan lonjakan impor 70 kali lipat lebih ini, senjata dan amunisi pun menjadi komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi secara persentase. Namun, secara nilai, kenaikan impor tertinggi terjadi pada produk mesin dan perlengkapan elektronik. Impor produk mesin naik US$ 422,8 juta (month-to-month/mtm) pada Maret 2020, menjadi US$ 1,6 miliar.

    Setelah mesin dan senjata, tiga produk lain yang mengalami kenaikan impor tertinggi adalah plastik dan barang dan plastik, naik US$ 161 juta (mtm) menjadi US$ 733 juta. Lalu, besi dan baja, naik US$ 159,7 juta menjadi US$ 787,7 juta. Terakhir, logam mulia, perhiasan dan permata naik US$ 146,1 juta menjadi US$ 246 juta.

    Artinya, impor senjata dan amunisi memang mengalami persentase kenaikan yang paling drastis. Namun secara nilai, impor senjata sebesar US$ 187,1 juta masih paling rendah dibandingkan empat produk lainnya.

    Adapun sepanjang Maret 2020, BPS mencatat, impor Indonesia secara keseluruhan meningkat US$ 1,8 miliar, atau sebesar 15,6 persen (mtm) menjadi US$ 13,35 miliar. Dari kenaikan US$ 1,8 miliar itu pun, lebih dari separuhnya berasal dari lima produk seperti mesin, senjata, hingga besi baja tersebut, dengan kenaikan secara kumulatif sebesar US$ 1 miliar.

    Meski impor naik, BPS mencatat neraca perdagangan sepanjang Maret 2020 masih tetap surplus US$ 0,74 miliar (mtm). Tapi, angka ini memang lebih rendah dari Februari 2020 yang mencapai US$ 2,51 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.