Wabah Corona, Pergerakan Pesawat di Bandara Lombok Kian Merosot

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Air Asia dari Perth mendarat di Bandara Internasional Lombok. TEMPO/Supriyantho Khafid

    Pesawat Air Asia dari Perth mendarat di Bandara Internasional Lombok. TEMPO/Supriyantho Khafid

    TEMPO.CO, Mataram - Sejak masa tanggap darurat Corona diberlakukan, penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Lombok (BIL) terus menurun. Sejak Maret 2020 lalu, pergerakan pesawat berkurang 9,12 persen dan pergerakan penumpang berkurang 8,28 persen.

    Communication and Legal Manager Bandara Lombok, Arif Haryanto, mengatakan, sebelum wabah corona meluas, pada Januari 2020 ada 2.690 pergerakan pesawat. Sebulan berikutnya, pada Februari 2020 ada 2.446 pergerakan atau peningkatannya 26,54 persen jika dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya.

    Adapun angka penumpang yang datang dan pergi di Bandara Lombok pada bulan Januari 2020 mencapai 260.051 orang atau bertambah 15,24 persen jika dibandingkan Januari 2019. Selanjutnya, pada Februari 2020 sebanyak 214.570 penumpang atau naik 26,54 persen.   

    Pada 1 April 2020, kata Arif, penerbangan masih cukup tinggi yakni 40 pergerakan yang mengangkut 2.842 penumpang. Tetapi mulai 13 April 2020, pergerakan tersisa 20 penerbangan saja dan mengangkut 948 orang. Tren penurunan penumpang ini telah terlihat sejak Maret 2020 dan dipastikan akan semakin anjlok pada April. ''Masyarakat sudah benar-benar melaksanakan imbauan untuk mengurangi aktivitas bepergian,'' kata Arif Rabu 15 April 2020 sore.

    Menurut Arif, maskapai kini sudah mengurangi frekuensi penerbangannya. Bahkan AirAsia sudah menghentikan layanannya sejak 21 Maret 2020 dan diperkirakan sampai 21 April 2020.  

    Bandara Lombok yang semula beroperasi nonstop kini beroperasi 16 jam per hari, mulai 06.00 sampai dengan 22.00 WITA. Bahkan terhitung 18 April sampai dengan 17 Mei 2020 mendatang, operasional BIL berkurang menjadi 15 jam saja, dari 06.00-21.00 WITA.

    Dari bisnis perhotelan, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Nusa Tenggara Barat (PHRI NTB) Ni Ketut Wolini melaporkan bahwa 24 hotel sudah tutup, dan yang masih buka 32 hotel. Dari jumlah tersebut, karyawan yang dirumahkan oleh hotel yang tutup itu sebanyak 1.932 orang. Adapun hotel yang masih buka tapi merumahkan karyawan sebanyak 1.378 orang. ''Jadi karyawan yang dirumahkan sebanyak 3.310 orang,'' ucapnya.

    SUPRIYANTHO KHAFID


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.