Pandemi Corona, OJK: Ada Bank yang Kuat, Ada yang Kurang Kuat

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kiri) bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri), Menteri perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri), Kedua Ojk Wimboh Santoso (kedua kanan), dan materi Perdagangan Agus Suparmanto (kanan) memberikan keterangan terkait Stimulus kedua penanganan Dampak Covid-19 di kantor Kemenko Perekonomian,Jakarta, Jumat, 13 Maret 2020. TEMPO/Sintia Nurmiza

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kiri) bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri), Menteri perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri), Kedua Ojk Wimboh Santoso (kedua kanan), dan materi Perdagangan Agus Suparmanto (kanan) memberikan keterangan terkait Stimulus kedua penanganan Dampak Covid-19 di kantor Kemenko Perekonomian,Jakarta, Jumat, 13 Maret 2020. TEMPO/Sintia Nurmiza

    TEMPO.CO, Jakarta - Wabah virus Corona (Covid-19) menguji daya tahan industri perbankan nasional. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso berujar aktivitas perekonomian yang terganggu menekan kemampuan debitur untuk membayar angsuran pinjaman, dan pada akhirnya berdampak pada kinerja perbankan secara keseluruhan. 

    “Pastinya ada bank yang kuat, ada yang setengah kuat, dan kurang kuat, ini tergantung pada buffer yang dimiliki atau persediaan likuiditas yang cukup,” ujarnya kepada Tempo, Senin 13 April 2020.

    Terlebih otoritas telah menerbitkan kebijakan restrukturisasi kredit, yang memungkinkan debitur terdampak Covid-19 mendapatkan penundaan pembayaran bunga maupun pokok pinjaman. Wimboh mengatakan kondisi likuiditas bank menjadi salah satu fokus utama pengawasan beberapa waktu terakhir.

    “Kami monitor sangat dalam, dan kami menghitung seberapa kuat kemampuan mereka untuk menahan apabila nasabah menunda pembayaran angsuran pinjaman sampai dengan satu tahun,” katanya.

    Jika likuiditas mulai kering, perbankan dapat memanfaatkan sejumlah opsi yang tersedia, seperti mekanisme pinjaman ke bank lain atau pasar uang antar bank (interbank call money) hingga mekanisme menggadaikan surat berharga atau repurchase agreement (repo) ke Bank Indonesia.

    Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaga Simpanan (LPS), Halim Alamsyah mengatakan berdasarkan pantauan terhadap kinerja perbankan di kuartal satu 2020, sejumlah indikator menunjukkan peningkatan status dari normal menjadi waspada. “Mudah-mudahan tidak memburuk,” ujarnya.

    Halim menambahkan secara berkala lembaganya juga melakukan uji stress (stress test) perbankan, sehubungan dengan kapasitas LPS dalam menangani bank-bank bermasalah, termasuk melakukan penjaminan dana nasabah. “Ini kajian yang bersifat forward looking dengan skenario terburuk, dan tentu saja diharapkan tidak terjadi."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.