Terimbas Sentimen PSBB Jakarta, IHSG Melemah ke 4.626,69

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan atau IHSG kembali berakhir di zona merah dengan koreksi 3,18 persen atau 151,944 poin ke level 4.626,695 pada akhir perdagangan hari ini, Rabu, 8 April 2020. Sepanjang sesi, hanya 81 saham yang menguat sementara sisanya 335 memerah serta 117 stagnan.

    Penerapan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta dan aksi profit taking para investor masih akan mewarnai laju pergerakan indeks harga saham gabungan.

    Total nilai transaksi saham di pasar reguler, tunai, dan negosiasi juga ambles dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total nilai transaksi Rp 6,12 triliun.

    Total nilai transaksi itu menjadi yang terendah sepanjang perdagangan April 2020. Adapun transaksi di pasar reguler, tunai, dan negosiasi kemarin mencapai Rp 9,59 triliun.

    Sementara itu, investor asing mencetak jual bersih atau net sell senilai Rp 329,23 miliar. Sepanjang periode berjalan, total net sell asing sebanyak Rp 12,15 triliun.

    William Hartanto, Technical Analyst Panin Sekuritas menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG menurun kembali karena gagal menembus resistance 4.811. Hal itu, menurut dia, mengindikasikan terjadi profit taking.

    Terkait dengan sentimen penerapan PSBB di Jakarta mulai 10 Maret 2020, William menyebut aturan itu memang mengancam beberapa bisnis. Akan tetapi, kebijakan itu dibutuhkan untuk menyelesaikan penyebaran virus Corona atau Covid-19.

    Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan tidak dapat dipungkiri keputusan PSBB Jakarta mempengaruhi laju IHSG. Kemarin, saat bursa regional kompak menguat, Indonesia malah mengalami penurunan.

    “Tentunya adanya PSBB akan berdampak terhadap penghasilan masyarakat dan perusahaan. Akan tetapi, seharusnya dampaknya tidaklah terlalu besar dan akan menjadi short term effect,” kata Frankie.

    Frankie menyebut saat ini investor juga sedang mencermati laporan keuangan kuartal I Tahun 2020. Hal itu untuk menilai dampak ekonomi terhadap perseroan yang ditimbulkan oleh penyebaran Covid-19.

    Adapun institusi asing tengah melakukan massive risk off mode. Akibatnya, terjadi penjualan terhadap assets on emerging market yang dialihkan ke safe haven instruments.

    Sementara itu, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali memproyeksikan tren jangka panjang IHSG masih belum mengalami kenaikan. Fluktuasi pergerakan indeks menurutnya masih akan terjadi. “Sentimen terhadap PSBB dan perkembangan dari pandemik Covid-19 global masih dominan,” katanya.

    Frederik menyebut langkah penerapan PSBB dinilai investor sebagai langkah yang lebih ketat dalam menindaklanjuti penyebaran Covid-19. Kondisi itu akan membuat sejumlah sektor seperti ritel dan informal mulai mengalami tekanan.

    Dari sisi global, dia menyebut belum banyak perkembangan atas penanganan virus Corona. Selain itu, dampak ekonomi secara global akan mulai lebih terlihat pada kuartal II/2020. “Sehingga investor akan lebih berhati-hati,” ucap Frederik.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.