IHSG Ditutup Melemah 0,69 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik. (ANTARAFOTO)

    Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik. (ANTARAFOTO)

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari ini, Selasa, 7 Maret 2020, di zona merah, meskipun bursa saham lainnya di Asia bergerak menguat.

    Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup melemah 0,69 persen atau 33,19 poin ke level 4.778,64 pada akhir perdagangan hari ini.

    Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup di level 4.811,83 dengan lonjakan 4,07 persen atau 188,40 poin.

    Sebelum berbalik melemah, indeks sempat melanjutkan penguatannya pada Selasa pagi hingga melonjak 2 persen menembus level 4.900. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam kisaran 4.721,72-4.975,54.

    Tujuh dari 10 sektor menetap di wilayah negatif pada akhir perdagangan, dipimpin infrastruktur yang melemah 2,04 persen, disusul sektor barang konsumsi yang turun 1,86 persen. Tiga sektor lainnya menguat, dipimpin sektor pertanian yang naik 2,94 persen.

    Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan penurunan indeks pada perdagangan hari ini merupakan hal yang wajar karena dalam dua pekan terakhir indeks cenderung terus menguat.

    "Awal minggu saja menguat padahal awalnya saya prediksi bakal terkoreksi. Jadi saat ini pasar sudah naik terlalu banyak, di level 4.700 sudah sangat bagus ini,” katanya.

    IHSG melemah setelah pemerintah merilis data cadangan devisa pada akhir Maret 2020 yang tercatat turun sebanyak US$ 9,4 miliar ke US$ 121,0 miliar dari posisi akhir Februari 2020 sebesar US$ 130,4 miliar.

    Penurunan cadangan devisa tersebut merupakan posisi terendah sejak Mei 2019. Padahal pada Januari 2020, Indonesia mampu membukukan cadangan devisa sebesar US$ 131,7 miliar, tertinggi sejak Januari 2018.

    Menurut Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko, penurunan cadangan devisa pada Maret 2020 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah.

    Faktor lainnya adalah keperluan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah kondisi “extraordinary” karena kepanikan di pasar keuangan global yang dipicu pandemi Covid-19 secara cepat dan meluas ke seluruh dunia.

    Kepanikan pasar keuangan global dimaksud telah mendorong aliran modal keluar Indonesia dan meningkatkan tekanan rupiah khususnya pada pekan kedua dan ketiga bulan Maret 2020.

    "Bank Indonesia menilai bahwa cadangan devisa saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah," ungkap Onny dalam rilis, Selasa.

    “Ke depannya, Bank Indonesia akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung ketahanan eksternal dan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” katanya.

    Berbanding terbalik dengan IHSG, indeks saham lainnya di Asia rata-rata masih menguat. indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup 1,96 persen dan 2,01 persen, masing-masing, sedangkan indeks Kospi ditutup menguat 1,77 persen.

    Di Cina, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 menguat masing-masing 2,05 persen dan 2,28 persen setelah bank sentral Cina merilis rencana stimulus lanjutan.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.