Sandiaga Uno Jelaskan Beda Kondisi Sekarang dengan Krisis 1998

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyambangi rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 15 Agustus 2019. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyambangi rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 15 Agustus 2019. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta -  Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyoroti pentingnya keterbukaan informasi yang dilakukan pemerintah terkait penanganan virus corona Covid-19.

    "Informasi ini membantu kami-kami juga, kalau informasinya transparan apa adanya masyarakat akan terbantu juga untuk mulai mempersiapkan langkah-langkah berikutnya," kata Sandiaga melalui konferensi video, Ahad 5 April 2020.

    Sandi mengungkapkan, saat ini informasi yang penting disampaikan oleh pemerintah adalah terkait kesehatan. Kemudian menurutnya, pemerintah harus bisa bergerak lebih cepat dalam memitigasi penyebaran virus corona, dibandingkan dengan pergerakan penyakit tersebut.

    Jika pemerintah bergerak cepat memitigasi penyebaran virus corona, kata dia, maka dampak virus itu terhadap sektor ekonomi dan sosial bisa diantisipasi sedini mungkin.

    Menurut Sandi, masalah yang dialami sekarang, juga belum pernah dialami Indonesia. Dia menganggap kondisi saat ini jauh berbeda dengan krisis moneter 1997-1998. "Karena krisis 97-98 tak ada krisis kesehatan dan tak ada krisis sosial yang mengharuskan kita tinggal di rumah," ujarnya.

    Sandi menganggap semua pihak punya tugas mengatasi dampak penyebaran virus corona. "Kita perlu persatuan dalam keadaan sulit masa Covid-19," tuturnya.

    Hingga Ahad 5 April 2020, telah terjadi penambahan sebanyak 181 orang konfirmasi positif sehingga total menjadi 2.273 kasus. Kemudian untuk pasien corona yang sembuh telah mencapai 164 orang dan total meninggal sudah 198 kasus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).