Ada Corona, ADB Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2020 2,5 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo  Jokowi bersama jajaran menterinya menggelar rapat terbatas membahas dampak ekonomi dari virus corona di Istana Bogor, Jawa Barat pada Selasa, 4 Februari 2020. TEMPO/Dewi Nurita

    Presiden Joko Widodo Jokowi bersama jajaran menterinya menggelar rapat terbatas membahas dampak ekonomi dari virus corona di Istana Bogor, Jawa Barat pada Selasa, 4 Februari 2020. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Asian Development Bank memperkirakan perekonomian Indonesia tumbuh 2,5 persen pada tahun 2020 lantaran mewabahnya virus Corona alias COVID-19. Sehingga, pertumbuhan itu akan turun ketimbang tahun lalu yang mencapai 5,0 persen.

     

    “Meski Indonesia memiliki landasan makroekonomi yang kuat, wabah COVID-19 yang tengah berlangsung telah mengubah arah perekonomian negara ini, dengan memburuknya kondisi lingkungan eksternal dan melemahnya permintaan dalam negeri,” kata Direktur ADB untuk Indonesia Winfried Wicklein dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 April 2020.

     

    Winfred memperkirakan perekonomian Indonesia bisa kembali secara bertahap ke jalur pertumbuhannya pada tahun depan. Syaratnya, pemerintah menerapkan tindakan tegas secara efektif untuk menanggulangi dampak kesehatan dan ekonomi dari wabah Corona.

     

    Menurut Asian Development Outlook 2020, pandemi COVID-19 bersamaan dengan penurunan harga komoditas dan gejolak pasar keuangan, akan berimplikasi buruk bagi perekonomian dunia dan Indonesia tahun ini. Terlebih, dengan memburuknya perekonomian sejumlah mitra dagang utama Indonesia.

     

    Tak hanya dari perdagangan global, permintaan dalam negeri juga diperkirakan akan melemah seiring dengan menurunnya sentimen bisnis dan konsumen. Namun, sejalan dengan pulihnya perekonomian dunia tahun depan, pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan memperoleh momentum, dibantu dengan reformasi di bidang investasi yang dikeluarkan baru-baru ini.

     

    Inflasi yang mencapai rata-rata 2,8 persen pada tahun lalu, diperkirakan akan naik tipis ke 3,0 persen pada tahun 2020, sebelum turun lagi ke 2,8 persen pada tahun 2021. Berdasarkan laporan ADB, tekanan inflasi dari ketatnya pasokan pangan dan depresiasi mata uang diperkirakan akan dapat diimbangi sebagian oleh penurunan harga bahan bakar non-subsidi, serta subsidi tambahan untuk listrik dan pangan.

     

    Pendapatan ekspor dari pariwisata dan komoditas diperkirakan akan menurun, sehingga menyebabkan defisit transaksi berjalan mencapai 2,9 persen dari produk domestik bruto pada tahun 2020. Seiring pulihnya taraf ekspor dan investasi pada 2021, volume barang modal impor yang lebih besar akan menyebabkan defisit transaksi berjalan tetap sama seperti pada 2020.

     

    ADB melihat pemerintah dan otoritas keuangan Indonesia telah meluncurkan berbagai langkah fiskal dan moneter yang terkoordinasi dan terarah untuk memitigasi dampak pandemi COVID-19 terhadap perekonomian dan mata pencaharian masyarakat. Hal tersebut termasuk distribusi bantuan langsung tunai bagi kelompok miskin dan rentan, serta pemotongan pajak dan kelonggaran pembayaran pinjaman bagi pekerja dan dunia usaha.

     

    Secara eksternal, kata Winfried, risiko terhadap proyeksi perekonomian Indonesia ini adalah wabah COVID-19 yang berkepanjangan, penurunan harga komoditas lebih lanjut, serta meningkatnya gejolak pasar keuangan. Dari dalam negeri, proyeksi ini bergantung pada seberapa cepat dan efektif penyebaran wabah dapat ditanggulangi. Keterbatasan sistem kesehatan dan kesulitan dalam menerapkan pembatasan sosial dapat memperburuk dampak pandemi terhadap ekonomi.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.