Alasan Bank Indonesia Yakin Perbankan Tahan Gempur dari Corona

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk

    Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk "Digital Transformation For Indonesian Economy: Finding The New Business Models" di Hotel Kempinski, Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2020. (Foto: Norman Senjaya)

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo tak memungkiri industri perbankan Tanah Air bakal ikut terdampak akibat mewabahnya Virus Corona alias COVID-19. Kendati demikian, ia memastikan kondisi perbankan Indonesia saat ini jauh lebih kuat ketimbang pada masa krisis global 2008 maupun 1997-1998.

     

    "Kenapa? Karena Capital Adequacy Ratio kit hanya 23 persen, non performing loan sebelum COVID-19 juga rendah, hanya 2,5 persen gross dan 1,3 persen net," ujar Perry dalam siaran langsung, Selasa, 31 Maret 2020. Dengan demikian, secara umum ketahanan industri perbankan cukup kuat.

     

    Meski demikian, ia mengatakan Wabah Corona pada dasarnya adalah gangguan terhadap kesehatan manusia. Sehingga, dalam kondisi wabah seperti saat ini, orang tidak bisa bekerja, dunia usaha terutama usaha mikro, kecil, dan menengah tidak bisa beroperasi, dan produksi berkurang. "Itu berdampak kepada ekonomi."

     

    Dalam kondisi seperti ini, Perry memahami kalau para pengusaha UMKM dan para debitur kecil ini akhirnya mengalami gangguan keuangan sehingga berimbas kepada kemampuan membayar kredit. Karena itu, mereka menjadi perhatian bagi pemerintah, khususnya otoritas terkait, agar diberi kelonggaran selama masa pandemi.

     

    Demi mengurangi pelbagai beban perekonomian masyarakat selama masa pandemi ini, Perry mengatakan pemerintah telah menyiapkan beberapa stimulus fiskal  yang segera diumumkan. Stimulus itu antara lain akan berfokus kepada dukungan sektor kesehatan selama masa darurat kesehatan.

     

    Pemerintah juga menyiapkan jaring sosial untuk menjaga daya beli masyarakat, misalnya melalui program keluarga harapan, hingga kartu prakerja. Di samping, pemerintah juga akan memberi stimulus bagi dunia usaha yang terdampak Corona.

     

    "Dengan kondisi global turun kami diskusi bagaimana stimulus fiskal lebih besar. Jadi bagaimana kesehatan, masyarakat, dan dukungan untuk UMKM," ujar Perry. Dengan demikian, imbas ke perbankan juga bisa dimitigasi.

     

    Belakangan, stimulus juga sudah diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan yang memberi keringanan angsuran kepada pengusaha UMKM yang terdampak Corona. Sementara, Bank Indonesia mendukung dengan penurunan suku bunga, menjamin likuiditas lebih dari cukup, serta kelonggaran di makroprudensial. "Kami akan terus berkoordinasi," tutur Perry.

     

    Sebelumnya, ekonom Faisal Basri sempat mengingatkan agar pemerintah terus menjaga kinerja dan kesehatan lembaga keuangan, khususnya Bank di masa pandemi corona ini. Sebab, ia memperkirakan sektor keuangan akan menghadapi masalah kredit macet plus tidak adanya tambahan kredit baru saat kondisi seperti saat ini. "Ingat jangan sampai di tengah pandemi, terjadi ledakan masalah di sektor keuangan. Sempurna itu nanti krisisnya, krisis lahir batin," tutur dia.

     

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.