Kepanikan Akibat Corona Reda, BI: Arus Modal Asing Mulai Masuk

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk

    Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk "Digital Transformation For Indonesian Economy: Finding The New Business Models" di Hotel Kempinski, Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2020.

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan meredanya kepanikan global membuat arus modal yang keluar dari Tanah Air mulai mereda dalam sepekan ke belakang. "Sekarang juga mulai ada inflow (arus modal masuk)," ujar dia dalam siaran langsung, Selasa, 31 Maret 2020.

     

    Arus masuk itu, kata Perry, antara lain datang dari lelang Surat Berharga Negara pada hari ini. Dari lelang tersebut dimenangkan Rp 22,2 triliun dari target Rp 15 triliun, dengan penawaran masuk Rp 35,15 triliun. "Jadi memang minat dari investor untuk membeli SBN masih relatif tinggi dan dari kemenkeu memenangkan lelangnya lebih dari yang ditargetkan," kata Perry. "Ini menunjukkan bahwa minat ke investasi di Indonesia memang masih relatif tinggi."

     

    Kendati demikian, Perry menuturkan secara akumulatif sejak awal tahun memang masih terjadi net-outflow alias arus modal keluar masih lebih besar daripada yang masuk. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, arus keluar dari portofolio investasi baik saham maupun obligasi mencapai Rp 145,1 triliun, dengan penjabaran antara lain Rp 131,1 triliun di surat berharga negara dan Rp 9,9 tiliun di saham.

     

    Menurut Perry, arus keluar banyak terjadi pada periode mewabahnya Virus Corona. Ia mengatakan sejak 20 Januari hingga 30 Maret 2020 terjadi arus keluar sebesar Rp 167,9 triliun. Rinciannya, Rp 153,4 triliun di Surat Berharga Negara dan 13,4 triliun di saham. Padahal, sebelum periode itu arus modal masuk masih cukup besar.

     

    Perry mengatakan merebaknya Virus Corona di dunia terjadi secara cepat dan luas. Bahkan penyebaran itu masih terjadi hingga kini, misalnya di Italia yang angkanya sudah melebihi Cina, maupun di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Sehingga, terjadi kepanikan masyarakat, khususnya pemodal. "Kepanikan ini yang menyebabkan outflow," tutur dia.

     

    Namun demikian, dengan adanya kebijakan stimulus fiskal dan stabilisasi bank sentral di berbagai negara, Perry mengatakan kepanikan mulai mereda. "Termasuk yang di Indonesia itu memang kepanikan itu mereda, meskipun ketidakpastian masih tinggi."

     

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.