IHSG Turun 5 Persen, BEI Bekukan Sementara Perdagangan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tamu undangan Penghargaan Galeri Investasi BEI 2019 menggunakan pakaian daerah saat melihat museum di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat, 28 November 2019. Pertumbuhan jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan rekor baru di tahun ini sebesar 237.747 single investor identification (SID) per 28 November 2019. Tempo/Tony Hartawan

    Tamu undangan Penghargaan Galeri Investasi BEI 2019 menggunakan pakaian daerah saat melihat museum di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat, 28 November 2019. Pertumbuhan jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan rekor baru di tahun ini sebesar 237.747 single investor identification (SID) per 28 November 2019. Tempo/Tony Hartawan

    Tempo.Co, Jakarta - Bursa Efek Indonesia membekukan sementara perdagangan di pasar modal pada pukul 10.20 waktu JATS. "Dipicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 5 persen," ujar Sekretaris Perusahaan PT BEI Yulianto Aji Sadono dalam keterangan tertulis, Senin, 30 Maret 2020.

    Hal ini dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat. Perdagangan akan dilanjutkan pukul 10:50:48 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan.

    Berdasarkan pantauan Tempo di RTI Business, Indeks Harga Saham Gabungan pada pukul 10.42 WIB berada pada angka 4318,292 atau turun 227,279 dari angka awal 4545,571.

    Saat awal perdagangan dibuka hari ini, IHSG memang langsung anjlok hampir. Begitu dibuka, IHSG langsung meluncur ke zona merah dengan koreksi 221,957 poin atau 4,88 persen ke level 4.323,614

    Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menilai, pergerakan IHSG di awal perdagangan ini, diwarnai aksi ambil untung (profit taking) oleh investor asing. Selain itu, kondisi global yang masih belum stabil membuat indeks langsung menurun tajam. “Terlebih Dow Jones juga mengalami penurunan lebih dari 900 poin dan Dow Jones Futures pada pagi ini juga masih di zona negatif,” jelasnya kepada Bisnis.com, Senin 30 Maret 2020.

    Akibatnya, kata Frankie, pasar bergerak zig-zag. Saat ini, sedang terjadi pertarungan antara pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia yang menggelontorkan stimulus secara massif, untuk melawan dampak dari pandemik COVID-19. “(Pertarungan antara) stimulus secara masif yang efeknya akan mengangkat indeks dengan efek dari pandemik COVID-19 yang menurunkan indeks,” katanya.

    Sebanyak 260 saham pagi ini mengalami koreksi dan hanya 41 emiten yang mampu menghijau. Saham-saham berkapitalisasi pasar besar jumbo masuk daftar top losers pada awal perdagangan. PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) misalnya, ambles 6,92 persen ke level Rp 1.345 hingga pukul 09:28 WIB. Emiten berkapitalisasi Rp 156,45 triliun itu membukukan net buy investor asing senilai Rp 3,73 miliar. Namun, investor domestik tercatat melakukan penjualan saham produsen rokok itu senilai Rp 11,0 miliar hingga pukul 09:32 WIB.

    Saham bank pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga ambles 6,88 persen ke level Rp 4.600 pada pukul 09:28 WIB. Nasib serupa juga dialami oleh bank pelat merah lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), yang juga melorot 6,81 persen ke level Rp 3.010.

    CAESAR AKBAR | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.