Pemerintah Prediksi Kebutuhan APD Medis 12 Juta Paket

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan menyelesaikan pembuatan alat pelindung diri atau APD di rumah produksi Anne Avantie, dalam foto yang diunggah pada 26 Maret 2020. Perancang busana Anne Avantie bersama yayasannya memproduksi alat pelindung diri atau APD untuk tenaga medis. Instagram/@Anneavantieheart

    Karyawan menyelesaikan pembuatan alat pelindung diri atau APD di rumah produksi Anne Avantie, dalam foto yang diunggah pada 26 Maret 2020. Perancang busana Anne Avantie bersama yayasannya memproduksi alat pelindung diri atau APD untuk tenaga medis. Instagram/@Anneavantieheart

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan empat bulan ke depan kebutuhan alat pelindung diri (APD) medis mencapai 12 juta paket. Dengan asumsi perhitungan tersebut, potensi permintaan pun dapat bertambah hingga 100 persen - 500 persen. 

    Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah telah meminta kepada Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dapat memproduksi masker dan APD.

    "Dalam rangka penanganan Covid-19, diversifikasi produk yang dilakukan industri tekstil menjadi salah satu cara cepat dalam pemenuhan kebutuhan APD dan masker yang sangat tinggi saat ini. Hal ini dapat menjadi solusi untuk mempertahankan kinerja industri tekstil di tengah menurunnya pasar dalam negeri," katanya melalui siaran pers, Jumat 27 Maret 2020.

    Alat pelindung diri yang dibutuhkan, meliputi pakaian, caps, towel, sarung tangan, pelindung kaki, pelindung tangan dan kacamata pelindung wajah atau goggles.

    Selain industri APD, pemerintah juga mendorong produsen tekstil di dalam negeri dapat ikut memasok APD dan masker. Sebab, saat ini di Indonesia masih butuh cukup banyak dalam menghadapi penyebaran covid-19 di Indonesia.

    Agus berjanji, akan terus aktif berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan untuk kelancaran izin edar dan impor bahan bakunya. 

    "Kami juga meminta kepada industri farmasi agar bisa mengoptimalkan produksi obat atau vitamin yang dibutuhkan saat ini," ujarnya.

    Menurut Agus, industri farmasi perlu mengembangkan Obat Modern Asli Indonesia (Fitofarmaka) yang berbasis bahan alam. Sebab, Indonesia punya potensi untuk pengembangan obat tersebut, karena keanekaragaman hayatinya lebih dari 30.000 spesies tanaman.

    Pemerintah juga mendorong produsen otomotif di dalam negeri untuk bisa memproduksi alat kesehatan, seperti ventilator atau alat bantu pernapasan.

    Untuk supply ventilator, lanjut Agus, akan dibuat prototipe sederhana yang dapat diproduksi massal melalui kerja sama antara industri otomotif dengan industri komponen.

    Lebih lanjut, salah satu bentuk dukungan kepada pelaku industri agar bisa berproduksi, pemerintah telah menerbitkan stimulus ekonomi kedua berupa pembebasan sementara bea masuk bahan baku industri, kemudahan proses importasi bahan baku, serta penjaminan ketersediaan pasokan pangan strategis.

    Sementara itu, Direktur Jendral Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan pihaknya telah meminta secara khusus kepada Indonesian Nonwoven Association (INWA) agar anggotanya bisa menyediakan kebutuhan bahan baku untuk produksi APD dan masker.

    "Asosiasi Nonwoven Indonesia juga telah diminta untuk memasok kekurangan bahan baku APD dan masker. Sehingga untuk memproduksi APD dan masker tidak ada lagi hambatan kebutuhan bahan baku," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.