Gubernur BI: Kondisi Sekarang Berbeda dengan Krisis 1998 dan 2008

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai memberikan key note speech dalam acara Simposium Asia's Trade and Economic Priorities 2020, di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Selasa 29 Oktober 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai memberikan key note speech dalam acara Simposium Asia's Trade and Economic Priorities 2020, di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Selasa 29 Oktober 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia atau BI Perry Warjiyo mengatakan kondisi sekarang berbeda dengan krisis moneter Asia pada 1998 dan krisis keuangan global yang terjadi pada 2008. Pasalnya, kondisi yang terjadi saat ini bersumber dari aspek kemanusiaan karena pandemi virus Corona atau Covid-19 yang kemudian berdampak ke sektor ekonomi dan keuangan secara global.

    "Karena masalah Covid-19 yang menyebar sangat luas dan cepat di Amerika Serikat, Eropa dan kita di Indonesia," kata Perry dalam live streaming perkembangan ekonomi terkini, Kamis, 26 Maret 2020.

    Oleh karena itu, menurut Perry, semakin cepat dalam mengatasi pandemi Corona, maka dampak ke sektor ekonomi dan keuangan semakin cepat diminimalisir. Hingga kini, ia mengklaim dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi sangat minimal dan inflasi tetap terkendali.

    Hal itu, kata Perry, karena ketersediaan pasokan yang cukup, dampak output gap terhadap inflasi yang rendah, juga karena kredibilitas kebijakan moneter untuk memastikan stabilitas harga dan sasaran inflasi (2 hingga 4 persen) tercapai termasuk melalui koordinasi bersama tim pengendali inflasi daerah. Pelemahan rupiah yang terjadi pun semata-mata bersifat temporer karena kepanikan global.

    Lebih jauh ia menjelaskan saat ini kondisi perbankan nasional jauh lebih baik ketimbang pada tahun 1998 dan 2008. Performa perbankan seluruh dunia juga disebutnya lebih kuat.

    "Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan 23 persen, kredit macet (NPL) sebelum mewabahnya Covid-19 tercatat 2,5 persen gross dan 1,3 persen netto," kata Perrry. Belakangan juga sudah ada perbaikan dari kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG dan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir.

    Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hari ini terpantau kembali menguat. Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR tercatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menyentuh posisi Rp 16.328.

    Angka tersebut menunjukkan penguatan 158 poin dari nilai kemarin yang sebesar Rp 16.486 per dolar AS. Sedangkan pada 24 Maret 2020, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 16.568 dan kurs beli Rp 16.403.

    IHSG  Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 26 Maret 2020, kembali naik menembus level psikologis 4.000 di tengah pelemahan bursa saham regional. Pada pukul 09.08, IHSG menguat 186 poin atau 4,72 persen ke posisi 4.123,63. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 39,4 poin atau 6,95 persen menjadi 606,23.

    Perry menegaskan, BI akan terus berkoordinasi secara erat dalam melakukan langkah tersebut bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan(KSSK), termasuk memperkuat Protokol Manajemen Krisis (PMK). "BI akan terus memperkuat koordinasi ini dengan pemerintah dan OJK untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu."

    Selain itu, bank sentral juga mengambil langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Hal ini juga dilakukan agar bisa menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.