Jokowi Bakal Ikuti KTT Luar Biasa G20 Bahas Corona Secara Virtual

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan keterangan pers terkait penangangan virus Corona di Istana Bogor, Jawa Barat, Ahad, 15 Maret 2020. Jokowi meminta agar masyarakat Indonesia untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah guna mencegah penularan virus Corona. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan keterangan pers terkait penangangan virus Corona di Istana Bogor, Jawa Barat, Ahad, 15 Maret 2020. Jokowi meminta agar masyarakat Indonesia untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah guna mencegah penularan virus Corona. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi diagendakan mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa G20 yang akan membahas soal isu pandemi virus Corona atau Covid-19. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa secara virtual itu akan diikuti para Kepala Negara anggota G20.

    KTT Luar Biasa ini akan dipimpin oleh Kepala Negara Arab Saudi, Raja Salman sebagai Presidensi G20 tahun 2020. Konferensi Tingkat Tinggi tersebut akan berlangsung pada 26 Maret 2020 pukul 19.00 malam. Konferensi tersebut diharapkan dapat menghasilkan suatu pernyataan bersama terkait Covid-19.

    Pada pertemuan tersebut, Presiden Jokowi akan berdiskusi secara online dengan para pemimpin negara anggota G20 dan organisasi internasional terkait di antaranya PBB, WHO, Bank Dunia, dan IMF. "Dengan tujuan untuk membahas tidak saja penanganan krisis pandemik, tetapi juga dampak ekonomi dan sosial yang berpengaruh pada global supply-chain," seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian Luar Negeri, Rabu, 25 Maret 2020.

    IMF sebelumnya memperkirakan bahwa dampak virus Corona berpotensi seburuk krisis ekonomi global pada 2008. Oleh karena itu, pertemuan G20 kali ini sangat dinanti-nanti guna mendukung stabilitas keuangan dan perekonomian dunia.

    Presiden Jokowi yang akan berpartisipasi dalam konferensi tersebut mendorong solidaritas global yang memerlukan aksi bersama dan terkoordinasi. Aksi bersama terkoordinasi itu dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akses dan keterjangkauan peralatan kesehatan dan vaksin.

    "Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, dukungan pendanaan dalam mekanisme bilateral, regional ataupun multilateral secara global perlu didukung dengan peningkatan kerja sama internasional dalam memerangi Covid-19 dan segala dampak ekonomi dan sosialnya," seperti dikutip dari pernyataan Kementerian Luar Negeri.

    Aspek perdagangan internasional dan kerja sama internasional juga menjadi pokok bahasan utama guna menjamin kelancaran arus barang dan jasa, serta penguatan upaya global dalam merespon Covid-19.

    Sebelum diselenggarakannya KTT G20 Luar Biasa Virtual, G20 telah melaksanakan pertemuan virtual Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 pada 23 Maret 2020, serta pertemuan Sherpa G20 pada 25 Maret 2020.

    Pada pertemuan virtual para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral, telah dibahas paket stimulus dalam kerangka Covid-19. Di samping itu, organisasi internasional seperti Bank Dunia dan IMF juga sepakat untuk mengeluarkan bantuan pendanaan guna meredam dampak pandemik Covid-19 terhadap perekonomian global.

    Dalam pertemuan Sherpa G20, Indonesia telah menyampaikan perlunya G20 fokus mendukung negara berkembang dan Least Developed Countries (LDCs) sebagai pihak yang diperkirakan paling rentan terhadap dampak pandemi Covid-19.

    G20 dibentuk tahun 1999 dan merupakan forum utama kerja sama ekonomi internasional yang memiliki posisi strategis. Negara anggota G20 secara kolektif mewakili 85 persen GDP dunia, 75 persen perdagangan global dan dua per tiga penduduk dunia.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.