Pandemi Corona, Simak 5 Tips untuk Investor Saham Berikut Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ambrolnya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hingga merosot 37,36 persen sejak awal tahun akibat sentimen pandemi Corona tak sedikit menimbulkan keresahan investor. Bahkan selama 2 pekan terakhir IHSG telah mengalami setidaknya 5 kali suspensi perdagangan sementara (trading halt) karena anjlok hingga 5 persen dalam satu hari.

    Penyebaran virus yang cepat nyatanya berdampak sangat dalam, tidak terkecuali bagi perekonomian global yang terus menunjukkan volatilitas, bahkan cenderung menurun. Ketidakpastian atas jangka waktu redanya pandemi ini juga membuat pergerakan pasar modal di hampir seluruh negara mengalami koreksi dalam.

    Pemerintah dan otoritas terkait kian gencar memberikan stimulus dan relaksasi demi mengurai hambatan ekonomi yang muncul dari pandemi ini. Mulai dari pengaturan mekanisme pasar keuangan hingga beragam insentif untuk sektor riil.

    Lalu bagaimana seharusnya investor mengeloa keuangannya di tengah situasi seperti saat ini? Berikut lima tips yang disampaikan oleh Chief Investment Officer & Director PT Jagartha Penasihat Investasi Erik Argasetya. 

    1. Tinjau Ulang dan Seimbangkan Portofolio

    Peninjauan ulang portofolio secara berkala wajib dilakukan sesuai dengan tujuan investasi masing-masing investor. Saat menentukan tujuan investasi di awal, maka alokasi aset ditentukan dengan mengisi sebuah set pertanyaan investment risk profiler. 

    Namun satu hal yang harus diingat adalah risk profile seorang investor pun dapat berubah sesuai dengan tujuan investasi yang berubah, usia, kondisi finansial dan juga kondisi pasar seperti yang terjadi saat ini. “Sehingga, investor pun direkomendasikan untuk melakukan review dan rebalance kembali portofolionya apakah masih sesuai dengan kondisi saat ini,” ujar Erik.

    2. Perhatikan Momentum Investing

    Jika sudah melakukan review and rebalancing portofolio dan memang masih ada sisa dana yang dapat diinvestasikan, Erik menyebut tidak ada salahnya untuk mulai dapat melakukan momentum berinvestasi.

    “Penurunan pasar saham yang sudah 'diskon besar-besaran' memberikan banyak kesempatan bagi para investor untuk mulai membangun portofolionya,” kata Erik.

    Aksi beli, jika dilakukan secara tepat dengan modal pengetahuan yang cukup, akan sangat berpeluang memberikan keuntungan. Meskipun masih dilanda kekhawatiran, secara historis ada beberapa sektor yang cenderung bersifat defensif seperti sektor konsumer dan kesehatan. 

    Himbauan pemerintah untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah, secara tak langsung memberi prospek bagus terhadap beberapa emiten telekomunikasi. Perusahaan-perusahaan ini mungkin dapat diuntungkan dengan tingginya permintaan data internet.

    Lebih jauh, Erik pun optimistis dalam jangka panjang pasar saham akan selalu kembali rebound setelah adanya sebuah epidemi. Dengan begitu, investor dapat memanfaatkan situasi ini untuk membeli produk investasi berbasis saham karena harga saham yang rendah dan membiarkannya hingga kondisi pasar kembali membaik.

    3. Diversifikasi

    Diversification is Key in Investing. Saat ini sudah banyak pilihan lain untuk berinvestasi selain di instrumen pasar modal modal seperti saham, obligasi dan reksa dana. Diversifikasi investasi bisa melalui investasi alternatif yang marak ditawarkan oleh platform-platform fintech misalnya seperti Equity Crowdfunding (ECF), Project Financing dan Peer-to-Peer (P2P).

    Lending dapat menjadi pilihan diversifikasi yang baik bagi para investor. Namun, pastikan investor untuk berinvestasi hanya di produk investasi dan penyelenggara yang menyediakan produk investasi yang telah terdaftar dan mendapatkan izin dari OJK,” kata Erik.

    4. Dana Darurat

    Dalam kondisi seperti saat ini Erik menyarankan untuk meningkatkan dana darurat, tak hanya bagi investor tapi bagi masyarakat secara umum. Pasalnya, para ahli kesehatan memperkirakan, diperlukan waktu yang tidak sebentar hingga pandemi mereda sampai mencapai titik normal. 

    Maka dari itu investor perlu mengalokasikan lebih banyak dana darurat untuk berjaga di rentang waktu sekitar tiga hingga enam bulan ke depan. Dana darurat dapat dengan memegang uang tunai secara langsung atau dialokasikan di tabungan, deposito atau reksa dana pasar uang.

    5. Sehat Pangkal Bahagia dan Kaya

    Erik juga menekankan yang tak kalah penting adalah menjaga kesehatan diri masing-masing dan tingkatkan empati untuk membantu sesama. Pasalnya, masih banyak orang yang tidak terlalu beruntung untuk memiliki pilihan di masa isolasi seperti ini.

    Oleh karena itu, Erik menyebutkan memiliki empati dan saling membantu semampunya akan sangat baik untuk membesarkan hati mereka yang sedang kesulitan terutama di masa pandemi virus Corona ini. “Apakah gunanya kekayaan jika kita tidak mempunyai kesehatan dan berbagi dengan sesama” ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.