Penanganan Corona Dikritik, Luhut: Negara Mana Sih yang Siap?

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, memberi penjelasan setelah mendapat laporan soal kasus dugaan korupsi PT Asabri (Persero) di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Januari 2020. Tempo/Fajar Pebrianto

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, memberi penjelasan setelah mendapat laporan soal kasus dugaan korupsi PT Asabri (Persero) di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Januari 2020. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritimandan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menilai tidak ada satupun negara yang siap menghadapi pandemi virus corona (COVID-19). Hal itu disampaikan terkait banyaknya kritikan terhadap pemerintah yang menilai penanganan COVID-19 lamban.

    "Pertanyaan saya, negara mana sih yang siap? Kan tidak ada yang siap. Jadi kalau ada pengamat bilang kita enggak siap, ya memang enggak pernah ada yang duga kita akan seperti ini," kata Luhut seperti dikutip Antara Selasa, 24 Maret 2020.

    Menurut Luhut, negara sebesar Amerika Serikat saja galau menghadapi pandemi COVID-19. Bahkan ia menangkap AS malah meminta bantuan kepada Indonesia terkait obat malaria chloroquine yang disebut ampuh untuk pengobatan corona. 

    Luhut pun berencana untuk menawarkan peluang bisnis klorokuin, yang diproduksi PT Kimia Farma (Persero) Tbk. itu. "Saya dengar sendiri pernyataan Presiden Trump. Kita ini produsen chloroquine terbesar dunia, yaitu Kimia Farma. Saya tadi baru telepon Dirut Kimia Farma berapa sih produksi kita. Karena Amerika mau produksi, kita offer (tawarkan) mereka untuk konteks ini," katanya.

    Lebih lanjut, Luhut menganggap kritikan soal penanganan COVID-19 keluar karena ketidaktahuan publik. Ia pun menilai hal itu normal.

    Namun, Luhut kembali mengingatkan bahwa pemerintah tidak akan pernah membuat keputusan yang merugikan rakyatnya. "Memang di sana-sini tidak sempurna, ya karena vaksinnya saja belum ada. Dan ini kita belum lihat eskalasinya bagaimana," imbuh Luhut.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.