Ketimbang Tes Corona, Anggota DPR Didesak Segera Anggarkan BLT

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Didik J. Rachbini. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Didik J. Rachbini. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior  Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini mengkritik keras rencana anggota DPR RI beserta seluruh keluarganya menjalani pemeriksaan dan tes virus Corona atau Covid-19 dalam waktu dekat.

    Ketimbang beramai-ramai ikut tes Corona, menurut Didik, anggota DPR seharusnya bekerja keras mengalokasikan anggaran untuk rakyat yang perekonomiannya terdampak akibat virus Corona. Anggaran Bantuan Langsung Tunai (BLT) harus langsung diturunkan ketika terjadi penurunan ketahanan ekonomi golongan bawah.

    Didik menyebutkan ribuan item dapat dengan mudah dialihkan di dalam anggaran jika kepentingan pribadi dan kelompok dihilangkan karena DPR mempunyai kewenangan yang kuat. "Tetapi tidak terdengar suara pimpinan DPR, inisiatif itu nihil selama ini, bahkan membuat blunder tontonan keistimewaan fasilitas, yang menyakiti hati rakyat," ujarnya seperti dikutip dari pernyataan tertulis, Senin 23 Maret 2020.

    Pernyataan Didik menanggapi rencana dilakukannya tes corona terhadap anggota DPR dan keluarganya merupakan salah satu poin keputusan yang dihasilkan melalui rapat konsultasi pengganti Badan Musyawarah DPR pada Jumat, 20 Maret 2020.

    Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, rapid test akan dilakukan setelah Sekretariat Jenderal DPR berunding matang dengan rumah sakit-rumah sakit yang menyediakan layanan merawat pasien positif terpapar virus Corona.

    Dasco tak membantah langkah ini sebagai antisipasi karena banyak anggota DPR yang bepergian ke daerah selama masa reses. Rapid test akan berlangsung di kawasan rumah dinas DPR di Kalibata dan Ulujami, Jakarta Selatan.

    Lebih jauh Didik menilai tindakan yang dilakukan anggota DPR dan keluarganya adalah hal tanpa pertimbangan dengan mata hati yang jernih. "Dalam keadaan rakyat panik dan kesusahan, yang luar biasa, pimpinan dan anggota DPR dan keluarganya mempertontonkan standar etika dan moral yang sangat rendah dan sangat tidak pantas," ucapnya. 

    Didik pun tak habis pikir kenapa anggota dewan tega melukai perasaan rakyatnya yang sedang mengalami kesusahan pada saat ini. Walaupun alat tes corona itu tak mahal, tetapi pelajaran moralnya sangat mahal, bersamaan dengan komunikasi ke publik yang buruk. "Semestinya, diam, tidak memberikan tontonan yang menyakiti hati rakyat, jika tidak bisa berbuat untuk rakyat," ucap Didik.

    Didik menjelaskan, bahwa keadaan rakyat mengalami kesusahan karena dampak ekonomi yang luar biasa ini tak dijadikan pertimbangan dalam mengkomunikasikan fasilitas tes corona yang diistimewakan hanya untuk anggota legislatif dan keluarganya.

    "Dengan ringan hati menyiarkan fasilitas istimewa para pimpinan dan anggota DPR yang terhormat. Ini sungguh merupakan pelanggaran etika politik, yang sangat tidak terhormat bagi pimpinan dan anggota DPR," tuturnya.

    Oleh karena itu, Didik meminta rencana pemeriksaan virus Corona terhadap anggota DPR beserta keluarganya dibatalkan. Sebab, anggota legislatif sebagai wakil rakyat seharusnya mendahulukan kepentingan rakyat.

    Dia menegaskan bahwa anggota DPR tidak perlu mempertontonkan fasilitas istimewa ketika rakyat tengah merasakan duka yang begitu mendalam. "Program tersebut harus dibatalkan karena telah melukai hati rakyat dan menciptakan ketidakpercayaan publik kepada lembaga negara. Para anggota yang masih memiliki hati sebaiknya tidak ikut program tersebut," tuturnya.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.