Pengusaha Tekstil Produksi 1 Juta Masker untuk Sumbang PMI

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi masker. Sumber: Reuters/asiaone.com

    Ilustrasi masker. Sumber: Reuters/asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia Rizal Rakhman mengatakan sejumlah perusahaan anggota asosiasinya kini tengah memacu produksi satu juta masker non-medis untuk disumbangkan kepada Palang Merah Indonesia.

    "Sedang kami proses dan akan didistribusikan secara berkala secepatnya," ujar Rizal kepada Tempo, Senin, 23 Maret 2020. Masker belakangan menjadi kebutuhan masyarakat, khususnya para petugas medis, dalam situasi darurat wabah virus corona Covid-19.

    Ia mengatakan produksi masker itu melibatkan perusahaan dari segala lini, mulai dari industri kain hingga produksi menjadi masker. "Kalau yang ini banyak anggota kami menyumbang untuk PMI," kata Rizal.

    Menurut Rizal, produksi masker memang menjadi ceruk yang mulai akan diisi oleh para pelaku industri tekstil. Selain untuk disumbangkan, para pelaku industri juga mulai memproduksi masker untuk komersial. Adapun masker yang diproduksi adalah masker kain yang bisa dicuci dan dipakai ulang.

    Rizal belum bisa memastikan berapa banyak perusahaan yang terlibat dalam memproduksi masker tersebut. Sebab, para pelaku industri dari berbagai sektor berkolaborasi untuk bisa membuat produk tersebut dengan bahan baku dari dalam negeri.

    Salah satu perusahaan yang kini sudah mulai menjual masker non medis tersebut adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex. Masker produksi perusahaan dengan kode emiten SRIL itu dijajakan melalui sistem pre-order seharga Rp 5.500 per lembar dengan minimum pemesanan seribu lembar. 

    Dalam lain kesempatan, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Anne Patricia Sutanto mengatakan anggota asosiasinya bersiap untuk memproduksi masker dan alat pelindung diri alias APD untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri seiring dengan masih mewabahnya virus corona alias Covid-19. Kendati, peralatan yang bisa diproduksi baru pada tingkat non-medis lantaran untuk tingkat medis diperlukan sertifikasi khusus.

    "Untuk non-medikal bisa langsung produksi, sementara yang medikal kami sedang berkoordinasi dengan BNPB dan Kementerian Kesehatan bisa dipercepat enggak untuk kami sertifikasi," ujar Anne.

    Kendati belum setingkat medis, ia menjamin peralatan yang diproduksi memenuhi sejumlah kebutuhan seperti anti-air, anti-angin, anti-virus, anti-bakterial dan bisa dipergunakan sementara dalam kondisi darurat. "Ini akan lebih bagus dari jas hujan," tutur dia.

    Menurutnya, peralatan itu pun akan diuji di laboratorium milik pabrik dan memiliki kualitas yang telah teruji. Apalagi, kata Anne, produsen TPT Indonesia terbukti bisa menciptakan bahan untuk kebutuhan luar ruang yang dipastikan anti-air dan anti-angin.

    Terkait dengan bahan baku produksi masker dan APD itu, Anne mengatakan kebanyakan bahan baku sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Ia mengatakan pelaku industri dari sektor hulu hingga hilir bakal berkoordinasi erat untu memastikan ketersediaan bahan ini.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.