Nilai Tukar Rupiah Anjlok, Ini Bedanya dengan Krisis 1998

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, kondisi perekonomian saat ini berbeda dengan krisis ekonomi yang terjadi pada 1998. Saat itu, rupiah memang menembus Rp 16.650 dan setelah itu turun lagi ke level Rp 9.000 per dolar Amerika Serikat.

    "Masalahnya di 2020 ini, rupiah konsisten mengalami pelemahan meski fluktuasinya tidak separah 1998," kata Bhima saat dihubungi Tempo pada Jumat, 20 Maret 2020.

    Misalnya, kata dia, dalam dua tahun posisi kurs rupiah melemah dari Rp 13.000 ke Rp 16.200 versi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdot Bank Indonesia. Jika depresiasi rupiah konsisten, ia menilai hal ini justru berbahaya. Artinya, kata dia, dalam jangka panjang rupiah terus melemah dan akan sulit kembali ke level Rp 13.000.

    Dari sisi kompleksitas faktor, menurutnya saat ini lebih rumit dari krisis ekonomi tahun 1998. Tahun 1998 epicentrum krisis ada di Asia Tenggara, kemudian ada krisis likuiditas dan utang. Sedangkan pada 2020, faktornya lebih banyak lagi. Seperti 38,5 persen surat utang pemerintah dipegang oleh investor asing, kemudian ada perang dagang AS-Cina yang belum selesai, harga komoditas rendah artinya harga CPO, batubara dan komoditas unggulan Indonesia, dan gejolak geopolitik. "Ditambah virus corona, situasi makin gawat," Bhima menuturkan.

    Dia mengingat, pada 1996 sebelum krisis moneter, pertumbuhan ekonomi masih mencapai 8 persen. Lalu tahun 1998 turun ke -13,6 persen.

    Masalahnya lagi, kata dia, dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen. Artinya, kekuatan fundamental ekonomi dalam menahan laju krisis lebih rapuh dibandingkan 1998.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.