Rupiah Makin Lemah, BI Jelaskan Kondisi Krisis dan Pasar Global

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan dalam acara Digital Transformation For Indonesian Economy di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2020. TEMPO menggelar acara diskusi bertajuk Digital Transformation For Indonesian Economy dengan tema Finding The New Business Models. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan dalam acara Digital Transformation For Indonesian Economy di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2020. TEMPO menggelar acara diskusi bertajuk Digital Transformation For Indonesian Economy dengan tema Finding The New Business Models. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kondisi perekonomian dan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini berbeda dengan krisis 1998 dan 2008. Menurut dia, pelemahan terjadi di seluruh pasar uang global terjadi karena sentimen negatif dari virus Corona atau Cofid-19.

    "Sekarang yang terjadi adalah kepanikan seluruh pasar keuangan global, termasuk pemilik modal, karena begitu cepat merebaknya virus ke Eropa, Inggris, dengan eskalasi yang cepat," kata Perry dalam video conference usai Rapat Terbatas dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Jumat, 20 Maret 2020.

    Dia mengatakan dalam kondisi ini investor dan pelaku pasar global melepas semua aset yang mereka miliki seperti saham, obligasi, emas, dijual dalam dolar.

    Sehingga di seluruh dunia terjadi permintaan dolar di pasar keuangan global. Dalam konteks itu, kata dia, Indonesia juga terkena. "Kita tidak sendiri, seluruh negara mengalami hal sama," ujar dia.

    Dia menuturkan langkah stabilitasi yang BI lakukan yaitu menyediakan supply dolar. Kata dia, BI terus melakukan intervensi baik secara tunai dan di pasar spot, maupun forward melalui DNDF.

    "Ini untuk menjaga mekanisme pasar dan agar tidak terjadi kepanikan dan memberikan confidence di pasar," kata dia.

    Dia juga memastikan untuk bahwa cadangan devisa tetap cukup dalam melakukan intervensi itu.

    Dia mengatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, dan semua lembaga terkait untuk mengambil langkah lanjutan.

    Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 18-19 Maret 2020 memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4,50 persen. Suku bunga fasilitas simpanan juga turun 25 bps menjadi 3,75 persen, dan suku bunga fasilitas pinjaman turun 25 bps menjadi 5,25 persen.

    "Kebijakan kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran, stabilitas eksternal yang terjaga," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam siaran langsung pengumuman RDG BI di Bank Indonesia, Jakarta, Kami, 19 Maret 2020.

    Menurut Perry, langkah itu juga sebagai tindak lanjut dari sejumlah stimulus yang sudah dikeluarkan pemerintah. Selain itu BI juga kembali memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk mendukung upaya meminimalkan risiko dampak virus Corona atau Cofid-19.

    Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah hari ini. Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR tercatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menyentuh posisi Rp 16.273

    Angka tersebut menunjukkan pelemahan 561 poin dari nilai kemarin yang sebesar Rp 15.712 per dolar AS.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?