Pandemi Corona, Tren Kenaikan Jasa Logistik Naik Terus Tiap Hari

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menata masker di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Jumat 28 Februari 2020. Harga masker yang sempat menyentuh sekitar Rp1,7 juta per kotak untuk jenis N95 karena dampak virus corona, kini telah turun hingga sekitar 50 persen menjadi sekitar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu per kotak, sementara untuk masker bedah dari harga sekitar Rp250 ribu menjadi Rp160 ribu per kotak. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Pedagang menata masker di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Jumat 28 Februari 2020. Harga masker yang sempat menyentuh sekitar Rp1,7 juta per kotak untuk jenis N95 karena dampak virus corona, kini telah turun hingga sekitar 50 persen menjadi sekitar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu per kotak, sementara untuk masker bedah dari harga sekitar Rp250 ribu menjadi Rp160 ribu per kotak. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta – Bisnis jasa pengiriman dan logistik mengantisipasi lonjakan kapasitas di tengah pandemi wabah virus corona atau Covid-19. Lonjakan ini semakin kentara setelah pemerintah secara resmi  mengimbau masyarakat untuk beraktivitas dari rumah.

    Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengatakan tren kenaikan permintaan jasa pengiriman ini sudah terlihat sejak sepekan lalu. Zaldy mencatat ada lonjakan yang cukup signifikan untuk pengiriman bahan makanan, alat kesehatan, bahkan saat ini bahan kimia untuk pembuatan cairan pembersih ikut naik. 

    “Kenaikan logistik untuk bahan makanan dan alat kesehatan, bisa naik sampai lebih dari 100 persen. Kalau dilihat trennya naik terus setiap hari,” ujar Zaldy kepada Tempo, Rabu 18 Maret 2020.

    Zaldy mengatakan kenaikan tersebut dipicu pergerakan masyarakat yang terbatas kebijakan kerja dari rumah. Meski nantinya akan ada kebijakan lockdpwn, Zaldy mengatakan permintaan tak akan terganggu. Bahkan, kata dia, tetap akan ada lonjakan permintaan. Dalam kondisi seperti ini, Zaldy memastikan aktivitas logistik tidak boleh berhenti. Apalagi, melihat pengalaman di Wuhan Cina, pengiriman bahan makanan sehat naik tajam untuk meningkatkan kesehatan mereka.

    “Sehingga, jalur logistik yang aman atau bebas virus harus bisa tersedia dari petani sampai ke kota-kota. Distribusi barang yang aman akan menjadi kunci penting untuk membuat lockdown bisa berhasil dan masyarakat tidak panik,” ujar Zaldy.

    Saat ini, perusahaan logistik tengah mengerahkan kapasitas maksimal untuk  mengantisipasi terjadinya kelangkaan. Untu menekan penularan, Zaldy mengatakan perusahaan juga tengah mempersiapkan perubahan sistem operasional terutama di dalam gudang agar tidak berkerumun di satu lokasi yang sama.

    Karena ada beberapa kinerja industri yang naik atau turun selama wabah Covid-19, maka perusahaan logistik yang melayani industri yang turun harus bisa dengan cepat berpindah melayani industri yang sedang naik. “Sehingga kapasitas logistik untuk melakukan distribusi tidak berkurang,” tutur Zaldy.

    Chief Executive Officer J&T Express Robin Lo mengatakan memang ada kenaikan selama periode bekerja dari rumah ini. Menurut dia, kapasitas tidak terganggu selama pembatasan pergerakan manusia diberlakukan. Bahkan, kata Robin, J&T Express sudah menyiapkan kapasitas yang memadai untuk menjangkau kenaikan permintaan hingga 200 persen. Adanya kenaikan permintaan ini ditengarai adanya peralihan pola belanja masyarakat dari konvensional menjadi daring atau online.  

    General Manager Sales SiCepat Ekspress Imam Sedayu mengatakan secara umum transaksi pengiriman barang masih bisa diantisipasi. Menurut dia, ada kenaikan sekitar 20 persen untuk pengiriman komoditas tertentu seperti alat kesehatan, farmasi, kebersihan, hingga kebutuhan pokok. Secara kapasitas, SiCepat melayani pengiriman sekitar 500 ribu paket per hari. Perusahaan, kata Imam, juga mengantisipasi lonjakan hingga 20 persen pada bulan ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.